Pasar Ekspor Sepatu Turun, Ketua Aprisindo Jatim Sebut Hal ini Jadi Faktor Pemicunya

Aprisindo Jawa Timur mengakui kinerja industri sepatu domestik terutama untuk ekspor masih belum menunjukkan hasil yang memuaskan.

Pasar Ekspor Sepatu Turun, Ketua Aprisindo Jatim Sebut Hal ini Jadi Faktor Pemicunya
KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO
Ilustrasi Sepatu Cibaduyut 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Arie Noer Rachmawati

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Jawa Timur mengakui kinerja industri sepatu domestik terutama untuk ekspor masih belum menunjukkan hasil yang memuaskan.

Pasalnya, hingga kuartal-III 2018, pertumbuhan industri sepatu domestik di Jatim turun sebesar 20 persen, sedangkan ekspor turun sekitar 7-10 persen.

Ketua Aprisindo Jatim, Winyoto Gunawan menjelaskan, kondisi ekspor yang terbilang kurang bagus ini lantaran banyak buyer yang beralih ke negara lain seperti Vietnam, Kamboja, dan India.

Selain itu, pengurangan tenaga kerja juga membuat produktivitas industri menjadi lamban.

Parkir Sembarangan, Ban Belakang Mobil Nopol W Digembok Dishub Kota Surabaya

"Permintaan sepatu meningkat ya memang betul. Tapi, daya belinya ini berkurang kalau dulu bisa beli sepatu lebih dari tiga kali, sekarang cuman satu kali bahkan tidak sama sekali," jelasnya kepada TribunJatim.com, Rabu (14/11/2018).

Dia menjelaskan, kondisi ekspor yang kurang bagus ini terjadi untuk pasar Eropa, sedangkan pasar Amerika masih terbilang stagnan karena adanya perang dagang sehingga imbasnya tidak terlalu signifikan.

"Kalau dolar naik harusnya bisa meningkatkan kinerja ekspor lebih baik dan harga bisa bersaing. Namun, karena sebagian bahan itu ada yang masih impor jadinya ya siklusnya tidak banyak," jelasnya.

Adapun, dikatakan Winyoto, saat ini pihak Aprisindo dibantu pemerintah, tengah melakukan pembahasan dengan pemerintah daerah di Eropa terkait bea masuk.

Usai Dilantik Jadi Wakapolrestabes Surabaya, AKBP Leo Simarmata Cek Ruang Tahanan Polsek Jajaran

Upaya ini dilakukan agar ke depannya bea masuk ke pasar Eropa menjadi nol persen seperti yang sudah terjadi di Vetnam.

"Karena selama ini kalau ekspor ke Eropa agak sulit. Ada kenaikan tarif bea masuk sebesar 12 persen, untuk unitnya sebesar 4,9 persen. Kalau seperti begini terus bisa kalah dengan Kamboja, India, dan Vietnam. Mudah-mudahan ini lancar dan target tercapai sehingga bisa bersaing dan bergairah lagi," ungkapnya.

Adapun, proyeksi industri persepatuan Jatim pada 2019 mendatang, menurut Winyoto, tergantung kondisi pasar dan situasi politik.

"Kalau kondisinya baik, ya itu bisa menunjang. Kalau buruk, ya bisa membuat orang takut belanja. Yang, jelas, ke depannya kami belum ada proyeksi industri tahun depan, tapi mudah-mudahan politiknya aman dan lancar," pungkasnya.

Pegawai PT Merpati Ungkap Beragam Perjuangan yang Ditempuh untuk Dapatkan Hak ke Manajemen

Penulis: Arie Noer Rachmawati
Editor: Ayu Mufihdah KS
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved