Breaking News:

Rekrutmen CPNS 2018

Mesin Penentu Kelulusan Tes CPNS, Banyak Anak Pejabat Terpental, Joni Dawud: Harus Dipertahankan

Mesin Jadi Penentu Kelulusan Tes CPNS 2018, Banyak Anak Pejabat Terpental, Joni Dawud Minta Sistemnya Harus Terus Dipertahankan.

TRIBUNJATIM/MUJIB ANWAR
Dari kiri, Ketua Pusat Studi Kebijakan Publik Unitomo Surabaya Dr Aris Sunarya MSi, Pakar SDM, Motivator dan Trainer Bambang Suyono, dan Ketua STIA LAN Bandung Dr Joni Dawud DEA dalam Seminar nasional dengan tema, 'Tantangan dan ancaman pengembangan SDM sektor publik di era milenial', Jumat (30/11/2018) di Kampus Unitomo Surabaya. 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Hasil rekrutmen tes CPNS 2018 menjadi salah satu topik menarik yang dibahas serius dalam seminar nasional yang digelar Pusat Studi Kebijakan Publik dan Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Unitomo Surabaya, Jumat (30/11/2018), yang mengusung tema, 'Tantangan dan ancaman pengembangan SDM sektor publik di era milenial'.

Fokus sorotan para peserta seminar dan para pembicara, terutama dengan banyaknya peserta yang gagal alias tidak lulus mengikuti seleksi kompetensi dasar (SKD) dengan menggunakan Computer Assisted Test (CAT), sesuai dengan passing grade yang ditentukan. Banyak diantaranya merupakan anak dari para pejabat.

Ketua STIA LAN Bandung Dr Joni Dawud DEA mengatakan, dengan banyaknya peserta CPNS 2018 yang tidak lulus tes dasar SKD menunjukkan bahwa sistem rekrutmen aparatur sipil negara (ASN) sekarang semakin baik, transparan, dan berkualitas. Hal ini berbeda dengan sebelumnya yang dinilai saran KKN.

"Sekarang kan penentu kelulusan mesin dan bisa langsung diketahui. Sehingga KKN bisa diminimalisir," ujarnya, saat menjadi pembicara seminar.

Unitomo Surabaya Gelar Seminar Nasional Tantangan Pengembangan SDM di Era Milenial

Selain Joni Dawud, dua pembicara lainnya adalah Motivator dan Trainer Bambang Suyono SH LLM, dan Ketua Pusat Studi Kebijakan Publik Unitomo Surabaya Dr Aris Sunarya MSi.

Menurut Joni Dawud, dengan semakin baiknya sistem rekrutmen CPNS, apresiasi dan kepercayaan publik ke pemerintah juga meningkat. Apalagi, banyak anak pejabat yang ikut tes CPNS tidak lolos. Karena yang menyatakan lolos tidaknya bukan lagi orang, tapi mesin. Sehingga tidak bisa ada model-model titip menitip.

"Makanya model ini harus dipertahankan, tentu dengan terus dimodifikasi. Misalnya, seperti model yang dilakukan oleh Malaysia," tegasnya.

Hal senada disampaikan Ketua Pusat Studi Kebijakan Publik Unitomo Surabaya Dr Aris Sunarya MSi. Menurutnya, dengan pelaksanaan tes seleksi CPNS menggunakan Computer Assisted Test (CAT), keterkaitan dengan manusia semakin dikurangi. Hal ini sangat penting, agar mereka yang lolos dan diterima sebagai ASN benar-benar yang memiliki kapasitas dan kapabilitas serta profesional. 

"Ingat, pegawai ASN itu merupakan agen perubahan dan motor penggerak pembangunan," terangnya.

Hal terpenting, kata Aris Sunarya, sistem rekrutmen yang sudah bagus tersebut harus terus dipertahankan dan semakin diperbaiki lagi. Bahkan ke depan, sistem yang dibangun harus benar-benar terintegrasi untuk seluruh wilayah di Indonesia menjadi sebuah big data, agar saat ada rekonsiliasi data tidak menimbulkan masalah. 

"Jangan sampai ganti pimpinan, sistemnya juga ganti. Hal-hal seperti ini biasanya masih terjadi," tandas Aris Sunarya.

Sementara Trainer Bambang Suyono menjelaskan, untuk mengembangkan SDM sektor publik di era milenial, Gerakan Nasional Indonesia Kompeten harus terus disuarakan dan direalisasikan.

Ini penting, karena tantangan besar PSDM di sektor publik adalah leadership, profesionalisme, dan integritas.

"Banyaknya kepala daerah yang ditangkap KPK karena terjerat kasus korupsi menegaskan hal itu. Padahal laporan keuangan daerahnya WTP (wajah tanpa pengecualian). Dari potret kasus tersebut menunjukkan bahwa ada problem serius di SDM," ucap Bambang, mengingatkan. (TribunJatim/Mujib Anwar)

Editor: Mujib Anwar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved