Natal dan Tahun Baru

Kapolri Jenderal Tito Karnavian Sebut Tidak Ada Ancaman Teror Saat Natal dan Tahun Baru

Jenderal Tito Karnavian selaku Kapolri mengungkapkan, polisi belum mendeteksi rencana teror saat perayaan Natal dan tahun baru.

Editor: Januar
TRIBUNNEWS/BIRO PERS/LAILY RACHEV
Kapolri Jend Pol Tito Karnavian menyebut tidak ada ancaman saat Natal dan Tahun Baru 

TRIBUNJATIM.COM - Jenderal Tito Karnavian selaku Kapolri mengungkapkan, polisi belum mendeteksi rencana teror saat perayaan Natal dan tahun baru.

Meski demikian, Polri tetap melakukan langkah-langkah proaktif untuk mewaspadai aksi terorisme.

“Tidak ada rencana serangan teror natal dan tahun baru. Belum ada. Tapi kita akan terus monitor terus,” ujar Tito di Ruang Puldasis Rupatama, Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (19/12/2018).

Polri, kata Tito, semenjak kasus teror di Surabaya pada 13 Mei 2018 meningkatkan pencegahan tindakan terorisme. Upaya pencegahan itu, yakni dengan melakukan penangkapan terhadap terduga teroris.

Jelang Natal dan Tahun Baru, Polda Jatim Gelar Rakor untuk Antisipasi Teror dan Gangguan Kambtimas

Tito mengungkapkan, sebanyak 21 terduga teroris telah ditangkap Polri pada November hingga saat ini.

Polisi, kata dia, sudah menangkap enam terduga teroris di Sumatera Utara, empat di Sulawesi Tengah, tiga di Jawa Barat, tiga Sulawesi Selatan, dua di Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jambi satu orang.

Serta dua orang yang kembali dari Suriah. “Penangkapan saya sudah katakan sekitar 370-an. Satu bulan ini bahkan 21 orang sudah kita tangkap dan proses hukum,” kata Tito.

Namun, Tito tidak menjelaskan detail identitas dari terduga teroris yang telah ditangkap itu.

Sementara, Tito mengatakan, dalam mengamankan Natal dan Tahun Baru pihaknya juga melibatkan unsur-unsur terkait, mulai dari TNI, pemuda-pemuda gereja, dan ormas-ormas keagamaan.

“Seperti banser mereka juga bersedia, Anshor bersedia untuk mengamankan. Sudah dikakukan koordinasi,” kata Tito.

Selain ancaman terorisme, kata Tito, pihaknya juga mewaspadai kasus-kasus konvensional yang ringan, namun mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat. Seperti, copet, calo, premanisme, jambret, tukang hipnotis, gendam yang ada di pelabuhan, stasiun kereta api, terminal-terminal bis.

“Saya sudah perintahkan kepada seluruh Kapolda dan Kapolres laksanakan bersihkan (kejahatan konvensional), sehingga masyarakat nyaman masuk tempat publik,” kata Tito.

Lalu, lanjut Tito, kejahatan pencurian motor atau begal, terutama di daerah Lampung, Sumatera Selatan juga menjadi perhatian.

“Saya tekankan khusus kepada kepolisian jajaran Lampung, Sumatera Selatan tahun ini lebaran saya anggap sukses, karena tidak ada insiden begal di Lampung dan Sumatera Selatan.

Caranya bagaimana? deteksi kelompok pelakunya biasanya itu-itu aja. Dekati mereka kalau mereka akan main tangkap, ada barang bukti tangkap. Sambil kita perkuat jalur,” tutur Tito.

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved