Breaking News:

Dua Poin Tuntutan Dilayangkan Massa Suara Minoritas pada DPRD Kota Surabaya

Bagus Dwipananda, koordinator program Empowerment and Justice Action (EJA) mengatakan, pihaknya menuntut dua poin kepada DPRD Kota Surabaya.

TRIBUNJATIM.COM/SAMSUL ARIFIN
Massa yang tergabung dalam #SuaraMarjinal menggelar aksi damai di depan Gedung DPRD Kota Surabaya. Mereka menuntut legislatif turut berperan aktif dalam penghapusan stigma dan diskriminasi terhadap kaum marjinal, Kamis (27/12/2018). 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Syamsul Arifin

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Koordinator massa aksi #SuaraMinoritas, Bagus Dwipananda, yang juga koordinator program Empowerment and Justice Action (EJA) mengatakan, pihaknya menuntut dua poin kepada DPRD Kota Surabaya.

Tuntutan tersebut dilayangkan sembari menggelar aksi di depan Gedung DPRD Kota Surabaya, Kamis (27/12/2018).

Pertama, mereka menuntut pihak legislatif turut aktif berperan serta dalam penghapusan stigma dan diskriminasi terhadap kaum marjinal.

Ingin Keadilan Bagi Kaum Marjinal, Massa Suara Minoritas Gelar Aksi di Depan Gedung DPRD Surabaya

Satpol PP Kabupaten Pasuruan Gelar Razia di Kawasan Tretes, 11 PSK Terciduk

Kedua, pelibatan masyarakat sipil, termasuk kaum marjinal dalam kegiatan kemasyarakatan yang diadakan oleh legislatif, termasuk dalam kegiatan yang melibatkan stakeholder.

“Banyak kaum marjinal ini yang masih mengalami diskriminasi dan stigma buruk di Surabaya, kelompok marjinal ini jumlahnya ribuan. Mereka terdiri dari pengguna napza, baik yang masih aktif maupun yang sudah berhenti, mantan pekerja seks, gay, transgender, orang dengan HIV/AIDS (ODHA), dan keluarganya,” ujar Bagus Dwipananda, Kamis (27/12/2018).

“Padahal mereka juga anak-anak bangsa, para generasi penerus bangsa yang harus ditolong, diperhatikan, agar bisa pulih seperti masyarakat normal," tambahnya.

Kapolrestabes Surabaya Sebut Uji Coba Jalan Gubeng Surabaya Ditunda, Tunggu Pemasangan SSP

Tambah Kenyamanan Penumpang, Kantor Suroboyo Bus Terminal Purabaya akan Bangun Ruang Baca

Bagus Dwipananda juga mengatakan, stigma dan diskriminasi juga sering terjadi pada kaum perempuan marjinal.

Hampir setiap hari, perempuan pekerja malam atau perempuan yang bekerja di tempat-tempat hiburan sering mengalami kekerasan, baik fisik maupun psikologis.

Mereka dilecehkan, bahkan diperlakukan tidak manusiawi, seperti perempuan murahan dan lain sebagainya.

Halaman
12
Penulis: Samsul Arifin
Editor: Dwi Prastika
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved