Ampas Tebu Pencegah Bahaya Merkuri Mahasiswa ITS Surabaya Raih Juara Pertama LKTIN Cosmos di Undip

Tim mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menciptakan metode biosorben dari ampas tebu yang dapat mengikat merkuri.

Ampas Tebu Pencegah Bahaya Merkuri Mahasiswa ITS Surabaya Raih Juara Pertama LKTIN Cosmos di Undip
ISTIMEWA/TRIBUNJATIM.COM
Mahasiswa ITS Surabaya menciptakan metode biosorben dari ampas tebu yang dapat mengikat merkuri. Tim ini terdiri dari Vicario Baroroh, Irmariza Shafitri Caralin, dan Alvin Rahmad Widyanto. 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Syamsul Arifin

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Tim mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menciptakan metode biosorben dari ampas tebu yang dapat mengikat merkuri.

Merkuri memang bisa berbahaya bila terakumulasi di dalam tubuh manusia.

Berdasarkan hasil pengujian tim yang terdiri dari Vicario Baroroh, Irmariza Shafitri Caralin, dan Alvin Rahmad Widyanto, perlakuan aktivasi ternyata memberikan perubahan ukuran pada adsorben (zat padat yang dapat menyerap komponen tertentu dari suatu fase fluida) yang semula berukuran besar menjadi lebih kecil dan selektif.

Mahasiswa ITS Surabaya Manfaatkan Ampas Tebu untuk Cegah Bahaya Merkuri

Mahasiswa Unair Surabaya Lakukan Penelitian Bersama Mahasiswa Master dan PhD di Taiwan

“Ukuran kecil inilah yang membantu meningkatkan kapasitas adsorpsi terhadap merkuri,” papar Vicario Baroroh, Jumat (4/1/2019).

Menurut Vicario Baroroh, pemilihan ampas tebu sebagai bahan karbon aktif sendiri bukanlah tanpa alasan.

Roroh bersama dua rekannya memilih ampas tebu karena kandungan selulosanya lebih tinggi jika dibandingkan dengan sekam padi maupun jerami.

Mahasiswa KKN Universitas Negeri Malang Ajak Karang Taruna Manfaatkan Limbah Batok Kelapa

Hasil Manchester City Vs Liverpool, The Citizens Nodai Rekor Tak Terkalahkan Liverpool

Dengan kandungan selulosa yang tinggi, lanjut Roroh, maka akan berdampak pula pada kapasitas adsorpsi merkuri yang tinggi.

“Selain itu, pemilihan ampas tebu ini pun didasari oleh keberadaannya yang mudah dijumpai di masyarakat,” tuturnya.

Melalui hasil inovasi tersebut, tim yang dibimbing oleh Endang Purwanti ini telah berhasil meraih juara pertama di ajang Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional (LKTIN) Cosmos di Universitas Diponegoro Semarang, beberapa waktu lalu.

Penulis: Samsul Arifin
Editor: Dwi Prastika
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved