Ini Kisah Pejuang Kopi dari Tulungagung, Temukan dan Kembangkan Kopi Kobra dari Puncak Gunung Wilis

Ini Kisah Pejuang Kopi dari Tulungagung, Temukan dan Kembangkan Kopi Kobra dari Puncak Gunung Wilis.

Ini Kisah Pejuang Kopi dari Tulungagung, Temukan dan Kembangkan Kopi Kobra dari Puncak Gunung Wilis
ISTIMEWA/TRIBUNJATIM.COM
Kristian Yuono (36) ketika memanen kopi arabika yang dikenal warga sebagai Kobra (Kolombia-Brazil) milik Mbah Painem (80) di Desa Gambiran, Kecamatan Pagerwojo. Kopi arabika khas Tulungagung ini nyaris punah. 

Bersama enam petani kopi di Sendang, Kris kemudian membiakkan 3500 pohon.

Setiap satu pohon dibutuhkan biaya Rp 6200.

Kini semua pohon sudah ditanam, dan berusia satu bulan.

Jika tidak ada kendala cuaca dan gangguan alam lainnya, kopi ini akan panen pada awal 2020 mendatang.

“Yang terpenting kopi Kobra yang nyaris punah itu kini bisa diselamatkan,” ujarnya.

Mengangkat Harga Kopi

Suami dari Partin ini kemudian mengajak beberapa warga untuk ikut coffee party yang diadakan Bank Indonesia Kediri.

Warga pun terperangah, karena ternyata kopi yang selama ini dianggap sepele mempunyai harga luar biasa jika dikelola dengan benar.

Tahun 2016 Kris merintis Oah Kopi, sebuah wadah yang menampung pada petani kopi di Sendang.

Anggotanya saat ini sekitar 84 orang.

Salah satu kegiatan yang dilakukan Kris dan kawan-kawan adalah melakukan pembelajaran pengolahan kopi.

Sebab selama ini para petani asal-asalan dalam memanen kopi.

Misalnya kopi dipanen masih dalam keadaan hijau.

Padahal seharusnya kopi dipetik saat sudah merah, agar berkualitas tinggi dan terus berproduksi.

Karena dipanen masih hijau, harga kopi Sendang tidak ada patokan yang pasti.

“Misalnya jenis robusta, harganya ada yang 3000 per kilogram, sampai Rp 22.000 per kilogram yang dianggap bagus. Jadi tidak ada patokan karena kualitasnya juga tidak standar,” ungkap Kris.

Berkat upaya pembelajaran tanpa lelah, kini para petani kopi mulai merasakan dampaknya.

Kopi sendang, khususnya robusta harga rata-rata mencapai Rp 30.000 per kilogram.

Itu pun tidak selalu ada stok, karena selalu habis terbeli.

Warga pun kini semakin giat menanam kopi, karena sudah tahu harganya yang menjanjikan.

Sudah ada ribuan pohon yang ditanam secara mandiri, maupun dari sumbangan Bank Indonesia Kediri.

Kris berharap, tahun depan kopi Sendang mulai bisa berbicara banyak.

“Kalau saat ini produknya masih sangat terbatas, paling hanya robusta yang tidak seberapa. Tapi tahun depan sudah banyak arabika yang mulai berbuah,” pungkas Kris.

Penulis: David Yohanes
Editor: Sudarma Adi
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved