Penderita DBD di Jatim Capai 2660 Pasien dan Terbanyak Kelima di Indonesia,Tapi Belum Ada Status KLB

Penderita DBD di Jatim Capai 2660 Pasien dan Terbanyak Kelima di Indonesia,Tapi Belum Ada Status KLB.

Penderita DBD di Jatim Capai 2660 Pasien dan Terbanyak Kelima di Indonesia,Tapi Belum Ada Status KLB
Istimewa
Ilustrasi nyamuk demam berdarah 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Dinas Kesehatan Jatim belum memberlakukan status kejadian luar biasa (KLB) untuk kasus demam berdarah dengue (DBD), meski tercatat ada 2.660 penderita dan 46 orang meninggal dunia selama bulan Januari 2019.

Kepala Dinas Kesehatan Jatim, Kohar Heri Santoso mengungkapkan KLB belum ditetapkan di Jatim, tetapi beberapa daerah sudah mulai memberlakukan KLB karena angkanya yang sudah memenuhi kriteria.

Waspadai Bahaya Demam Berdarah di Musim Hujan, 41 Orang di Situbondo Telah Terjangkit DBD

"Alasannya, karena tidak semua kabupaten atau kota kondisinya seperti itu. Kami lebih cenderung spesifik kepada daerah yang peningkatannya signifikan. Nanti daerah yang tidak signifikan dinyatakan KLB juga tidak pas. Tapi kami tetap memantau secara khusus," kata Kohar ketika ditemui di kantornya, Selasa (29/1/2019).

Diungkapkannya, salah satu daerah yang menyatakan KLB adalah Ponorogo karena adanya peningkatan kasus secara signifikan dan telah ada tiga pasien DBD yang ditetapkan meninggal dunia pada awal 2019.

Berantas Jentik Nyamuk DBD, Pemerintah Desa Sumberejo Kediri Bagikan 1.000 Ekor Ikan Cupang

"Artinya akan ada gerakan yang besar untuk mengatasi DBD. Nanti Jatim akan memberikan dukungan agar Ponorogo bisa menyelesaikan permasalahan ini," ujarnya.

Berdasarkan data yang ada, korban meninggal di Kabupaten Kediri 2019 dari 271 kasus, 12 di antaranya meninggal dunia.

Namun demikian, belum ada pengakuan KLB di kabupaten tersebut.

Sementara Tulungagung menjadi daerah dengan kasus terbanyak kedua dengan 249, dimana tiga orang di antaranya meninggal dunia dan Bojonegoro menyusul dengan 177 kasus, dimana ada empat orang meninggal dunia.

"Jumlah kasus DBD pada Januari tahun ini dibanding tahun lalu cenderung lebih tinggi. Hal itu disebabkan beberapa faktor seperti musim, lingkungan dan kondisi masyarakat," ujarnya.

Dari data di atas, Jatim menduduki peringkat ke-5 di Indonesia dengan kasus DBD paling banyak.

Namun Kohar menyatakan peringkat tersebut tidak terlalu penting.

"Yang paling penting bagaimana kita bertindak dalam penanganan. Peringkat berapapun harus menghadirkan gerakan agar masyarakat tidak sakit, seperti upaya pencegahan dan memberi pemahaman masyarakat agar tidak ketularan," katanya.

Selain itu, puskesmas dan rumah sakit yang ada di daerah diminta lebih waspada dengan memeriksa penderita DBD dengan lebih baik.

"Seseorang itu sakit DBD, harus diperiksa secara betul baik klinis laboratorium," ucapnya.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Sudarma Adi
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved