Didemo Warga Enam Desa Kecamatan Jenu Tuban, Ini Komentar PT Pertamina

PT Pertamina menanggapi aksi unjuk rasa yang digelar warga enam desa di Kecamatan Jenu di DPRD Tuban, Selasa (29/1/2019), pagi.

Penulis: M Sudarsono | Editor: Yoni Iskandar
SURYA.CO.ID/M SUDARSONO
Pengunjuk rasa menunjukkan surat tanda terima dari DPRD Tuban setelah menyerahkan surat penolakan kilang Pertamina-Rosneft 

TRIBUNJATIM.COM, TUBAN - PT Pertamina menanggapi aksi unjuk rasa yang digelar warga enam desa di Kecamatan Jenu di DPRD Tuban, Selasa (29/1/2019), pagi.

Warga enam desa yang menolak pembangunan kilang minyak Pertamina-Rosneft yaitu Wadung, Sumurgeneng, Rawasan, Kaliuntu, Remen dan Mentoso.

Manager Communication dan CSR Marketing Operation Region (MOR) V, Rustam Aji mengatakan, terkait dengan penyampaian aspirasi yang dilakukan sejumlah warga itu merupakan dinamika yang wajar.

Pembangunan kilang masih tahap awal, yakni sosialisasi. Masih ada tahapan lanjutan yang lebih panjang. Misalnya negosiasi lahan, studi AMDAL, dan sebagainya.

"Saya kira itu dinamika yang wajar," ujar Rustam dikonfirmasi Surya atas aksi penolakan warga terhadap pembangunan kilang minyak kepada Tribunjatim.com.

Dia menjelaskan, kilang yang akan dibangun di Tuban adalah program strategis nasional. Kilang tersebut diharapkan bakal menjadi penopang pemenuhan kebutuhan energi, khususnya bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia.

Warga 6 Desa di Kecamatan Jenu Tuban DemoTolak Pembangunan Kilang Minyak Pertamina-Rosneft

Yenny Wahid Kukuhkan FKK Nusantara Dukung Jokowi-Maruf, Tangkal Hoaks Sampai Ke Tingkat Bawah

Artis Riri Febrianty Dicecar 15 Pertanyaan, Pilih Bungkam Saat Ditanya Kenal Muncikari

Pembangunan kilang nantinya bisa mengurangi impor BBM, sehingga akan mengurangi ketergantungan pada negara lain untuk menjaga ketahanan energi nasional.

Untuk memenuhi kebutuhan BBM tanah air, Pertamina ditopang oleh sejumlah kilang. Sedangkan kilang paling muda yang dimiliki Pertamina dibangun pada 1994 di Balongan, Indramayu.

"Selama kurun waktu 25 tahun ini belum membangun kilang baru, termuda ya di Balongan Indramayu," Bebernya.

Menurutnya, memang tidak menutup kemungkinan adanya dampak dari kilang tersebut, tapi dari pengalaman di beberapa daerah yang memiliki kilang, manfaat positifnya yang dirasakan masyarakat lebih besar.

Tidak hanya penyediaan lapangan kerja baru dan peningkatan PAD untuk pembangunan. Namun termasuk dampak multiplayer efek, seperti usaha-usaha jasa penunjang, katering atau kuliner, laundry, pelatihan, penginapan, dan lain-lain.

"Berdasarkan pengalaman memang banyak manfaat positifnya, meski ada dampak lainnya," terangnya kepada Tribunjatim.com.

Ditambahkannya, berkaitan dengan penetapan lokasi (penlok) itu bukan kewangan perusahaan, melainkan kewenangan pemerintah provinsi dalam hal ini pemprov jatim.

Penlok lokasi terbaru ditandatangani oleh Gubernur Jatim sesuai keputusan gubernur, yang berdasarkan Perpres nomor 30 tahun 2015 Tentang penyelenggaraan pengadaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum.

"Penlok bukan dari perusahaan, tapi dari Pemprov Jatim," Pungkas Rustam.

Sekadar diketahui, pembangunan kilang minyak Pertamina-Rosneft awalnya ditempatkan di Desa Remen dan Mentoso, namun karena pembebasan lahan alot kini dialihkan di empat Desa, yaitu Wadung, Kaliuntu, Sumurgeneng dan Rawasan.

Pada rencana awal, lahan yang dibutuhkan sekitar 548 hektar, meliputi lahan 348 hektar milik KLHK dan 200 hektar milik warga Remen dan Mentoso.

Namun pada rencana yang baru ini, lahan yang dibutuhkan 841 hektar, yang terdiri milik KLHK 348 hektar dan 493 hektar milik warga empat Desa.(nok/TribunJatim.com).

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved