Breaking News:

Meriah, Drama Kolosal Peringati Peristiwa Pemberontakan Tentara PETA di Kota Blitar

Satu panggung di depan Monumen PETA dan satu lagi di jalan raya depan monumen," kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Blitar

Penulis: Samsul Hadi | Editor: Yoni Iskandar
Surya/samsul hadi
Sejumlah seniman dan pelajar memainkan drama kolosal untuk memperingati peristiwa pemberontakan tentara PETA di Monumen PETA, Jl Sudanco Supriyadi, Kota Blitar, Kamis (14/2/2019). 

TRIBUNJATIM.COM, BLITAR - Pementasan drama kolosal untuk memperingati peristiwa pemberontakan tentara Pembela Tanah Air (PETA) ke-74 tahun ini berlangsung meriah, Kamis (14/2/2019) malam.

Pementasan drama kolosal pemberontakan tahun ini sedikit berbeda dengan tahun sebelumnya.
Kali ini, panitia menutup Jalan Sudanco Supriyadi atau di depan Monumen PETA.

Jalan raya di depan Monumen PETA juga digunakan untuk pementasan drama kolosal. Kalau tahun sebelumnya, pementasan drama kolosal hanya berada di depan Monumen PETA.

"Tahun ini kami membuat dua panggung untuk pementasan drama kolosal. Satu panggung di depan Monumen PETA dan satu lagi di jalan raya depan monumen," kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Blitar sekaligus panita pementasan drama kolosal pemberontakan PETA, Triman Prasetyono.

Pementasan drama kolosal pemberontakan PETA tahun ini mengambil tema Api Revolusi di Bumi Pertiwi. Tema api revolusi ini untuk menggambarkan semangat bangsa Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan.

Warga di Kecamatan Batang-Batang Sumenep Digegerkan Sumur Bor yang Keluarkan Api

Jabat Ketua Dekranasda Jatim Arumi Bachsin Siap Bantu 99 Hari Khofifah Emil

Kemeriahan Kirab Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak, Turis Mancanegara Pun Ikut Mengabadikan

"Api revolusi itu sebenarnya juga datang dari Blitar," ujar Triman.

Untuk cerita drama kolosal tidak beda jauh dengan tahun sebelumnya. Drama kolosal itu menceritakan perjuangan pasukan PETA yang dipimpin Sudanco Supriyadi dalam mengusir penjajah Jepang. Hanya saja, panggung pementasan drama kolosal tahun ini lebih luas.

Panitia juga menggunakan jalan raya untuk pementasan drama kolosal. Dalam drama itu diceritakan terdapat iring-iringan kendaraan Jepang yang masuk ke Kota Blitar. Lalu sempat terjadi peperangan antara tentara PETA dan pasukan Jepang yang dimainkan di jalan raya.

Selain itu, peperangan antara tentara PETA dan pasukan Jepang juga diperagakan di depan Monumen PETA. Ada sekitar 250 orang yang terlibat dalam pementasan drama kolosal. Para pemain drama berasal dari seniman dan pelajar se-Kota Blitar.

Wakil Wali Kota Blitar, Santoso dalam sambutannya mengatakan pementasan drama kolosal digelar tiap tahun untuk memperingati peristiwa pemberontakan tentara PETA. Pementasan drama kolosal ini untuk menanamkan semangat nasional kepada seluruh masyarakat Kota Blitar.

"Peristiwa pemberontakan tentara PETA ini telah menjadi spirit bagi bangsa Indonesia untuk meraih kemerdekaan. Masyarakat Kota Blitar harus bangga dengan adanya peristiwa itu, terutama para generasi muda," kata Santoso.

Santoso meminta para generasi muda agar mau mempelajari dan menghayati peristiwa-peristwa sejarah seperti peristiwa pemberontakan tentara PETA terhadap penjajah Jepang. Hal itu penting bagi generasi muda dalam mengisi kemerdekaan. (sha/adv)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved