Temui Kepsek SDN Kauman 3 Malang, Ketua Komnas Perlindungan Anak : Yang Tutupi Kasus Bisa Dipidana

Temui Kepsek SDN Kauman 3 Malang, Ketua Komnas Perlindungan Anak : Yang Tutupi Kasus Pelecehan Seksual Bisa Dipidana.

Penulis: Aminatus Sofya | Editor: Sudarma Adi
TRIBUNJATIM.COM/AMINATUS SOFYA
Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, saat menemui massa aksi di depan Mapolres Malang Kota 

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Ketua Komnas Perlindungan Anak Indonesia Arist Merdeka Sirait menegaskan pihak-pihak yang berupaya menutupi dugaan kasus pelecehan seksual yang dilakukan IM kepada puluhan siswa di SDN Kauman 3 bisa dipidana.

Berdasarkan UU Nomor 35 Tahun 2014, setiap orang berupaya menutup-nutupi kasus kekerasan seksual terhadap anak bisa dikenai pidana paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp 100 juta.

"Pesan moral yang saya sampaikan tadi kepada Kepala Sekolah (Kepsek) SDN Kauman 3 tadi itu," kata Arist usai bertemu pihak SDN Kauman 3, Kota Malang, Senin (18/2/2019).

Ratusan Pendemo Minta Dindik Kota Malang Bersikap Tegas Terkait Kasus SDN Kauman 3, Ini Tuntutannya

BREAKING NEWS, Komnas Perlindungan Anak Datangi Polres Malang Kota Tanyakan Kasus Pencabulan Guru

Arist menerangkan dari penjelasan sekolah, terduga pelaku kekerasan seksual IM telah mengakui melakukan pencabulan pada beberapa siswa.

Pihak sekolah, juga telah memanggil korban dan wali murid korban untuk menggali keterangan lebih jelas.

Hasilnya, ada 20 siswa lebih yang mengaku menjadi korban tindakan lacur IM.

Lanjutkan Demo ke Polres Malang Kota, Aliansi Masyarakat Tolak Kekerasan Seksual Minta Usut Tuntas

"Menurut pengakuan korban yang 20 orang lebih, minimal IM melakukan raba-raba beberapa kali. Tapi pada saat bersamaan juga melakukan tindakan pencabulan dengan menyentuh alat genetalia korban," kata dia.

Arist juga mendorong lebih banyak korban yang melapor kepada kepolisian.

Dari 20 orang korban lebih yang mengaku menjadi korban, baru dua orang yang melapor.

"Itu yang akan kami kerjasamakan dengan pihak kepolisian. Karena jika korban banyak, tuntutannya nanti juga akan maksimal.

Sebelumnya, IM telah dipindah ke UPT Pengawas SMP Dinas Pendidikan Kota Malang.

Polres Malang Kota mengatakan IM belum ditahan karena belum menemukan cukup bukti.

"Kami perlu terlebih dahulu memeriksa korban. Bagaimana sih yang diterima korban, kronologinya bagaimana. Setelah itu baru kita mengarah ke terlapor," ucap Kasat Reskrim Polres Malang Kota, AKP Komang Yogi, Sabtu (16/2/2019).

Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved