Ada Aplikasi Among Tani, Petani Batu Bisa Curhat Permasalahan Pertanian, Tim Smart City Meresponnya.

Ada Aplikasi Among Tani, Petani Batu Bisa Curhat Permasalahan Pertanian, Tim Smart City Meresponnya.

Ada Aplikasi Among Tani, Petani Batu Bisa Curhat Permasalahan Pertanian, Tim Smart City Meresponnya.
ISTIMEWA/TRIBUNJATIM.COM
penanganan masalah pertanian oleh tim smart city dan dinas pertanian dari keluhan petani yang dilaporkan melalui aplikasi Among Tani. 

TRIBUNJATIM.COM, BATU - Adanya aplikasi smart city di Kota Batu dimanfaatkan dengan baik oleh petani. Aplikasi yang digunakan petani ini adalah Among Tani.

Tinggal mengunduh aplikasi itu di smartphone masing-masing, lalu melalui beberapa prosedur petani bisa mengeluh tentang permasalahan pertanian.

Seperti yang dikeluhkan oleh petani jeruk keprok, Gunarsih di Desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji.

Polres Malang Kota Tahan Guru Cabuli Siswi SDN Kauman III, Ada 4 Siswi yang Sudah Jadi Korbannya

Buat Main Game PlayStation, Remaja 15 Tahun dari Malang Ini Tega Gasak 2 Ponsel di Rumah Tetangganya

Ia memberikan data dengan sangat detail tentang permasalahannya. Di antaranya luas lahan sekitar 2600 meter persegi, usia komoditas jeruk keprok sekitar 6 tahun, yang diserang hama lalat buat.

Akibatnya buah menjadi busuk dan rontok atau jatuh ke tanah. Mazidhah A'an penyuluh pertanian mengatakan dari keluhan petani itu mendapatkan respon yang cukup cepat dari tim smart city.

Caleg di Kota Batu Berpotensi Tunggangi Program Pemkot Batu

Di samping ada jangka waktu untuk laporan yang diajukan petani.

"Menurut saya petani merasa senang bisa langsung di tanggapi keluhannya sehingga permasalahan petani dapat segera dia atasi. Selama ini saya dan tim turun respon petani sangat baik dan sangat mengapresiasi kinerja Dinas pertanian," kata A'an, Rabu (27/3).

Ia menjelaskan, petani ini mendapatkan respon yang beragam. Bahkan tim smart city didampingi tim Dinas Pertanian terjun langsung ke lapangan untuk mengetahui langsung masalah yang dihadapi petani.

Ada beberapa rekomendasi yang diberikan kepada petani, seperti petani harus melakukan pembungkusan buah mulai usia 1,5 bulan.

Lalu petani harus memusnahkan jeruk yang terserang hama, baik yang jatuh ke tanah maupun yang masih ada di dahan dengan cara dibakar.

"Hal ini dilakukan petani ketika mereka kesulitan berkomunikasi langsung dengan pihak dinas pertanian. Dengan begini mereka lapor, diketahui dinas langsung turun lapangan dan tahu permasalahan petani," imbuhnya.

Selain permasalahan itu juga ada permasalahan tentang serangan penyakit phytophtora yang menyerang tanaman kentang dengan umur tanaman 40 hari. Keluhan itu dilontarkan oleh Yunus petani di Desa Bumiaji.

"Kami mengeluh karena sering hujan jadi pertumbuhan kentang kami tidak maksimal. Karena berada di daerah yang jauh, dengan cara ini kami bisa direspon," kata Yunus.

Ia mengatakan dari laporan yang ia laporkan, ia mendapat rekomendasi agar memberikan pupuk organik, lalu membunuh jamur menggunakan fungisida organik bubur california atau fungisida sintetis sesuai dosis yang dianjurkan.

Penulis: Sany Eka Putri
Editor: Sudarma Adi
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved