Breaking News:

Griiya Kriya Daun, Jaga Usaha Almarhum Suami dengan Inovasi

Bengkel Kriya Daun, usaha kerajinan dari daun kering yang sudah berusia 23 tahun di Surabaya ini, berasal dari kecintaan almarhum suami Siti Retnanik

Penulis: Hefty Suud | Editor: Yoni Iskandar
dok, Griya Kriya Daun
Siti Retnanik, owner Bengkel Kriya Daun 

 TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Bengkel Kriya Daun, usaha kerajinan dari daun kering yang sudah berusia 23 tahun di Surabaya ini, berasal dari kecintaan almarhum suami Siti Retnanik pada tanaman dan semangatnya untuk memberi nilai pada sampah daun yang gugur.

Bengkel Kriya Daun sudah dimulai sejak 1996, sejak almarhum suaminya, Hery Wibawanto memutuskan untuk resain dari pekerjaannya di Dinas Perkebunan Jawa Timur.

Lepas dari pekerjaannya, almarhum suami Nanik, sapaan akrab Siti Retnanik, setiap pagi membawa kantung keresek besar dan pergi memungut daun yang berserakan di jalan. Kesal dengan apa yang dilakukan almarhum suaminya, Nanik mengaku kerap memarahinya setiap detik.

"Istri mana ya yang nggak jengkel lihat kelakuan suami seperti itu. Saya marahi dia hampir setiap detik, dan dengan sabarnya dia menjawab, 'nanti kalau daun-daun ini jadi uang, hijau matamu'. Saya pun membalas dengan singkat, mustahil!"

Namun menurut Nanik, almarhum suaminya adalah seorang yang teguh pendirian dan bertanggung jawab. Saat itu tahun 1996, dari daun yang dikumpulkan itu, sang suami berusaha membuat sampah daun itu menjadi kerajinan bernilai jual.

Almarhum suaminya bereksperimen mengubah sampah daun gugur menjadi daun kering. Sama sekali tidak memiliki pengalaman, percobaan membuat daun kering itu sering berujung gagal, pernah menyebabkan panci meledak, juga ember mengkerut.

Kondisi Terbaru Ani Yudhoyono, Tubuh Dipenuhi Selang, Ungkap Penyesalan yang Dibalas Anak Sulungnya

Warga Gedangan Sidoarjo Geger Penemuan Jenasah di Depan Kantor Kecamatan

Terbongkar Sisi Lain Guru yang Mayatnya Ditemukan Dalam Koper, Lihat Chat WhatsApp (WA) Terakhirnya

"Suami saya itu memang suka tanaman, dulu kalau pas dia nyapu di halaman, daun-daun yang gugur itu dikoleksi, disimpan dalam buku sampai kering. Terus suatu ketika ia lihat pameran dari kulit jagung yang dikeringkan. Nah dari situ dia punya ide, kenapa tidak daun-daun kering itu dijadikan kerajinan? Kan banyak tuh daun-daun gugur yang terus disapu, dibuang, nggak dipakai apa-apa," ujar ibu tiga orang anak itu.

Dari sekian banyak percobaannya, almarhum suami Nanik akhirnya menemukan cara untuk mengubah sampah daun menjadi daun kering untuk kerajinan. Untuk menghasilkan daun kering berwarna coklat pekat, direndamnya menggunakan asam sitrat. Sementara untuk menciptakan daun kering berwarna putih, direndamnya dengan cairan pemutih pakaian.

Produk pertama yang dibuatnya dengan memanfaatkan daun kering adalah kemasan daun dan kartu ucapan. Pada tahun sekitar 1997, diceritakan Nanik, dua produknya mendapatkan respon yang lyar biasa baik, terutama di Bali.

Lanjut sekitar tahun 1998-1999 ia berinovasi membuat kotak tisu. Produk tersebut adalah yang terus mendapatkan respon baik di masyarakat sampai sekarang.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved