APTRI Sesalkan Keputusan Penutupan Pabrik Gula

Penutupan sejumlah pabrik gula di PTPN X dan PTPN XI disesalkan Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI). Akibat penutupan pabrik gula membuat pet

Tayang:
Penulis: Didik Mashudi | Editor: Yoni Iskandar
(Surya/Didik Mashudi)
Ketua APTRI Soemitro Samadikoen pada diskusi publik meningkatkan produktifitas gula jelang hari besar keagamaan di Hotel Bukit Daun, Kediri, Selasa (9/4/2019). 

TRIBUNJATIM.COM, KEDIRI - Penutupan sejumlah pabrik gula di PTPN X dan PTPN XI disesalkan Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI). Akibat penutupan pabrik gula membuat petani tebu bakal beralih tanaman selain tebu.

"Kami sesalkan pabrik gula baru belum ada yang dibangun, tapi pabrik gula lama sudah ditutup satu demi satu," ungkap Soemitro Samadikoen, Ketua APTRI pada diskusi publik meningkatkan produktifitas gula jelang hari besar keagamaan di Hotel Bukit Daun, Kediri, Selasa (9/4/2019).

Dijelaskan Soemitro Samadikoen, keputusan penutupan pabrik sangat terburu-buru. Apalagi selama ini yang dimintai pertimbangan bukan petani tebu yang mengetahui kondisi riil di lapangan.

Soemitro mencontohkan, Pabrik Gula (PG) Watutulis pada akhirnya ditutup dan mengalihkan petani tebu pindah ke PG Gempol Kerep dan PG Krembung.

Belum tentu petani tebu PG Watutulis bersedia pindah.

"Malah prediksi saya tebunya bakal dibabati diganti tanaman lainnya," jelasnya kepada Tribunjatim.com.

Termasuk petani tebu PG Tulangan jika ditutup tidak akan mau masuk ke PG Krembung. Karena selama ini kultur yang ada di kedua pabrik gula itu sangat berbeda. "Paling hanya beberapa saja yang mau pindah, lainnya akan membabati tanamannya," tandasnya.

Pabrik gula lainnya yang masuk daftar untuk ditutup seperti PG Djombang Baru, PG Mritjan dan PG Mojopanggung.

"Kalau PG Mojopanggung ditutup apa mau petani tebu di Trenggalek membawa tebunya ke PG Ngadirejo," ungkapnya.

Sejauh ini pertimbangan sosiologis dan kultur petani tidak dipertimbangkan.

"Dulu pernah ada rencana membuat pabrik gula moderen di Comal, malahan telah dikeluarkan dana multy years Rp 500 miliar, namun rencananya mandek," ungkapnya.

Padahal jika ada pabrik gula moderen yang dapat mengolah gula rafinasi keuntungannya sangat besar. "Data impor raw sugar atau gula rafinasi sekarang jumlahnya mencapai 2,8 juta ton. Kalau untungnya setiap kg Rp 1.000, keuntungannya sudah Rp 2,8 triliun," jelasnya.

Petani sendiri sangat mendukung kalau pemerintah berniat membangun pabrik gula baru yang moderen dan efisien. Karena pabrik gula yang ada sekarang merupakan pabrik peninggalan Belanda sehingga hasilnya sangat kurang maksimal.

Sehingga produksi pabrik gula di Indonesia saat ini tidak mampu bersaing dengan negara yang masih baru dalam memproduksi gula.

"Sekarang kita kalah dengan Vietnam dan Kamboja yang memiliki mesin baru dan areal tanaman tebu yang luas," jelasnya.

Sebaliknya petani tebu di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir malah dirundung berbagai permasalahan harga yang merugikan. Akibatnya semakin banyak petani tebu yang beralih menanam non tebu.(dim/TribunJatim.com).

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved