Pakde Karwo: Pengentasan Kemiskinan Harus Dengarkan Suara Masyarakat

Mantan Gubernur Jatim, Soekarwo menjadi keynote speaker dalam Focus Group Discussion (FGD) untuk mewujudkan masyarakat sejahtera melalui sistem ekono

Pakde Karwo: Pengentasan Kemiskinan Harus Dengarkan Suara Masyarakat
sofyan arif candra /Tribunjatim
Suasana Focus Group Discussion (FGD) untuk mewujudkan masyarakat sejahtera melalui sistem ekonomi Pancasila yang diselenggarakan oleh Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) di Kantor Bappeda Jatim, Kamis (11/4/2019) 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sofyan Arif Candra Sakti

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Mantan Gubernur Jatim, Soekarwo menjadi keynote speaker dalam Focus Group Discussion (FGD) untuk mewujudkan masyarakat sejahtera melalui sistem ekonomi Pancasila yang diselenggarakan oleh Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN).

Dalam FGD yang mengambil tempat di Kantor Bappeda Provinsi Jatim, Jalan Pahlawan, Surabaya, Kamis (11/4/2019) ini Pakde Karwo, sapaan akrab Soekarwo memaparkan strategi pengentasan kemiskinan di Jatim pada jaman pemerintahannya dengan tema 'Mandiri dan Sejahtera bersama Wong Cilik'.

Dalam penerapannya, Pakde Karwo menjelaskan dasar dari strategi tersebut adalah Ekonomi Pancasila yang memasukkan unsur kebudayaan dimana semua negara-negara di asia timur menerapkannya.

Salah satu kebudayaan yang dimaksud Pakde Karwo adalah pemerintahan yang partisipatoris.

"Kebijakan pembangunan dan pengentasan kemiskinan  di Indonesia harus melibatkan masyarakat miskin dan terpinggirkan yang menjadi tujuan pembangunan itu sendiri. Negara (pemerintah) harus mampu mendengarkan aspirasi masyarakat  agar masyarakat terlibat aktif dalam berbagai program pembangunan dan pengentasan kemiskinan," kata Pakde Karwo, saat memaparkan materinya.

Pakde Karwo lalu menyebutkan empat tantangan pemerintah provinsi Jatim yang dihadadi di era pemerintahannya.

Yang pertama adalah jumlah penduduk miskin  di Jatim terbanyak di Indonesia.

"Kita juga mempunyai penduduk rentan Kemiskinan yang sangat bergantung pada kebijakan pemerintah, kalau harga listrik atau BBM naik sedikit saja, mereka akan jatuh miskin," kata Pakde Karwo.

Yang ketiga adalah feminisasi kemiskinan dimana terus meningkatnya jumlah rumah tangga miskin yang dikepalai perempuan dan penduduk miskin perempuan.

Halaman
12
Penulis: Sofyan Arif Candra Sakti
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved