Cuci Darah Jadi Tren, Dokter Ari: Ada BPJS, Warga Makin Terbuka dengan Gaya Hidup Tak Sehat

dr Ari Triantaanoe SpPD, dokter penangung jawab Ruang Hemodialisis RSUD Soewandhie Surabaya menyatakan tindakan cuci darah justru tampak seperti tren.

Cuci Darah Jadi Tren, Dokter Ari: Ada BPJS, Warga Makin Terbuka dengan Gaya Hidup Tak Sehat
SURYA/AHMA ZAIMUL HAQ
LAYANAN CUCI DARAH - Suasana pelayanan cuci darah di instalasi hemodialisis RSUD dr M. Soewandhie, Surabaya, Kamis (25/4). Tahun ini RS Soewandhie direncanakan menambah 50 mesin cuci darah. SURYA/AHMAD ZAIMUL HAQ 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Bila terlanjur gagal ginjal, seorang pasien sudah terbilang hanya bisa gantungkan hidupnya pada kegiatan cuci darah.

Yang menghawatirkan, dr Ari Triantaanoe SpPD, dokter penangung jawab Ruang Hemodialisis RSUD Soewandhie Surabaya menyatakan tindakan cuci darah justru tampak seperti tren.

Dr Ari kembali mengakui bahwa memang ada peningkatan pasien yang cenderung menderita kompleksitas atau komplikasi penyakit sehingga menyerang fungsi ginjal.

Akibatnya racun dalam tubuh tak bisa dikeluarkan.

(45 Pasien Gagal Ginjal Reguler Cuci Darah, RSU Soewandhie Surabaya Kewalahan)

(Terkendala Biaya, Khadijah Bocah Penderita Gagal Ginjal Asal Kabupaten Pamekasan Tak Mampu Berobat)

 "Sebenarnya sejak dulu sudah ada penyakit ginjal. Namun karena masyarakat sekarang mulai terbuka dengan penyakit, dan kini cuci darah dicover BPJS sehingga banyak warga berbondong-bondong cuci darah," kata dr Ari.

Menurutnya perkara penyakit ginjal ini banyak disebabkan karena gaya Hidup yang tidak sehat.

Terutama pola makan yang sering mengonsumsi minuman bersoda, penyedap makanan, pengawet hingga pewarna makanan. 

Selain itu meminum jamu dan obat herbal juga menjadi pemicu utama penyakit ginjal, terlebih produk obat herbal yang efektifitasnya tak bisa dipertanggung jawabkan, justru beredar luas di masyarakat.

Dokter Ari menganalogikan minuman kaleng yang tumpah ke baju dan sulit dihilangkan.Bagiamana jika minuman itu diminum dan menumpuk di organ tubuh.

Hal ini sama saja menumpuk racun. Kalau sudah menyerang ginjal tindakan terapinya adalah cuci darah.

(Dokter Apin: Saat Si Kecil Demam, Beri Obat dan Gendong, Nggak Perlu Panik dan Ngotot Harus Dirawat)

(8 Manfaat Kolang-kaling Bagi Kesehatan yang Kerap Menjadi Bahan Kolak saat Bulan Ramadan)

Tindakan cuci darah ini dilakukan saat pasien diketahui kadar racun dalam tubuh atau tingkat kreatinin meningkat. Kadar kreatin yang terbilang normal maksimal 1,5 kreatinin.

Begitu pasien diketahui sampai 10 kali lipat, sudah harus dilakukan tindakan cuci darah agar racun tidak menumpuk. 

 "Kalau menumpuk bisa terjadi kejang, koma, tak sadarkan diri, hingga berakibat fatal. Pola hidup dengan penngelolaan stres dan pola makan menjadi kuncinya," terang penanggung jawab hemodialisis di RSUD Soewandhie Surabaya ini.

 Reporter: Surya/Nuraini Faiq

(Meriahnya Jalan Sehat Arema Sadar Pajak VI di Malang, Peserta Senam Bersama hingga Dapat Doorprize)

(INFO SEHAT HARI INI - 6 Manfaat Blewah Bagi Kesehatan yang Sering Jadi Menu saat Berbuka Puasa)

Penulis: Nuraini Faiq
Editor: Anugrah Fitra Nurani
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved