Nilai Impor Jepang 5 Kali Ekonomi Jatim, Bank Indonesia Dorong UMKM Ekspor ke Jepang

Kantor Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur mengadakan “Business Matching Indonesia-Jepang Ekspor Produk Unggulan Jawa Timur” pada Selasa (30/5/2019)

Nilai Impor Jepang 5 Kali Ekonomi Jatim, Bank Indonesia Dorong UMKM Ekspor ke Jepang
Tribunjatim.com/Fikri Firmansyah
Emil Dardak, Wakil Gubernur Provinsi Jawa Timur (kanan) saat di dampingi oleh Difi A. Johansyah, Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur (kanan) di acara 'Business Matching Indonesia-Jepang Ekspor Produk Unggulan Jawa Timur'. Selasa (30/4/2019) di Gedung Bank Indonesia Surabaya. 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Fikri Firmansyah

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA -  Kantor Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur bekerjasama dengan Indonesia-Japan Business Network mengadakan “Business Matching Indonesia-Jepang Ekspor Produk Unggulan Jawa Timur” di Kantor Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur (30/4/2019). 

Kegiatan ini dihadiri oleh Emil Dardak, Wakil Gubernur Provinsi Jawa Timur bersama 60 UMKM Jawa Timur binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia se-Jawa Timur dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur.

Demi mengurangi defisit transaksi, Bank Indonesia tak pernah berhenti mendorong peningkatan ekspor,

“Jika kita lihat, nilai impor Jepang adalah sekitar US$ 600 juta atau 5 kali lipat ekonomi Jawa Timur. Dengan melihat angka yang sangat besar ini, tentunya membuka peluang yang lebar untuk Jawa Timur menjadi mitra Jepang,” tutur Emil.

(Mahasiswa ITS Surabaya Bikin Aplikasi Kuma, Bisa Bantu Pelaku UMKM Cari Konsumen Lewat Smartphone)

Di saat yang sama, Emil menyebut Quality Control (QC) Jepang yang tinggi menjadi salah satu permasalahan yang dihadapi oleh para eksportir.

“Walau begitu, kita tak boleh mudah menyerah. Jangan sampai hanya diberi feedback negatif lalu kita mundur, Menurutnya, prinsipnya adalah 'Ojo Wedi' atau 'jangan takut terhadap langkah ekspor'.

Selain QC, permasalahan perizinan dan standardisasi produk, kemampuan Sumber Daya Manusia, kapasitas produksi serta minimnya saluran pemasaran juga dihadapi oleh sejumlah UMKM yang mencoba masuk ke pasar Jepang.

“Saya melihat dari UMKM yang hadir, sebagian di antaranya telah ready to export, sebagian yang lain telah memiliki potensi untuk ekspor. Hal ini harus terus kita dorong, Apalagi ada dukungan dari BI," ucap Emil.

"Bank Indonesia berhasil membina pelaku industri kopi di beberapa titik di Jatim. Banyak yang sudah menjadi profesional dan bisnisnya jalan. Sehingga apa yang dilakukan BI ini punya track record yang baik, " ungkap Emil.

"Salah satu strategi untuk menembus pasar ekspor adalah dengan membuat communal branding, Jika UMKM kita berjuang sendiri-sendiri tentu susah, perlu ada aliansi, membantu satu sama lain memanfaatkan jejaring yang sudah ada dan memiliki standardisasi produk dan kapasitas, tentunya akan lebih mudah, ” jelas Emil.

(Pemkot Malang Akan Masukkan Produk dari UMKM Kota Malang ke Toko Retail Modern, Termasuk Tempe Sanan)

Difi A. Johansyah, Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur, menjelaskan, pada kegiatan ini BI berperan menjadi mak comblang  yang mempertemukan UMKM dengan pasar Jepang yang di antaranya adalah anggota dari IJB-Net.

Sebagai kelanjutan dari program ini, akan diadakan sejumlah kegiatan business matching lainnya.

“Sebelumnya kami telah melakukan kegiatan serupa dengan Malaysia dan sudah ada beberapa yang tembus pasar Malaysia. Rencananya, pada hari Kamis ini juga akan diadakan kegiatan serupa dengan buyer dari Singapura. Tujuannya agar mereka mendapatkan produk Jatim yang berkualitas sesuai kebutuhan pasar Singapura, " pungkas Difi.

(Komite Ekonomi Industri Nasional Minta BUMN Bermitra Aktif dengan Perusahaan Swasta dan Pelaku UMKM)

Penulis: Fikri Firmansyah
Editor: Anugrah Fitra Nurani
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved