Ratusan Lansia Jadi Santri Dadakan di Ponpes Darul Ulum Jombang, Belajar Ilmu Agama & Khusyuk Ibadah

Ratusan Lansia Jadi Santri Dadakan di Ponpes Darul Ulum Jombang, Belajar Ilmu Agama & Khusyuk Ibadah.

SURYA/SUTONO
Para perempuan lansia sedang menyimak Alquran dan beraktivitas lain, menunggu maghrib tiba, di Pesantren Darul Ulum, Jombang, tempat mereka menjadi santri dadakan selama Ramadan 

KH Cholil yang juga Ketua MUI Jombang menceritakan, kegiatan ‘nyantri’ lansia saat Ramadan sebenarnya sudah dimulai sejak ratusan tahun silam.

“Karena kebanyakan dari mereka yang saat ini mondok tersebut anggota jamaah Tarikat Qodiriyah wan Naqsabandiyah, yang memang berpusat di sini (PPDU). Tarikat ini sendiri sudah ada sejak awal-awal pondok ini berdiri, akhir abad 19,” terang KH Cholil,

Menurut KH Cholil, para lansia itu tidak datang secara bersama-sama, namun secara bergelombang. Hanya saja, rata-rata mereka datang sejak awal Ramadan.

Tahun ini, menurut KH Cholil, jumlah yang nyantri jauh berkurang dari tahun lalu. "Biasanya mencapoai 200 orang lebih. Ini sekarang hanya 112 orang," kata Kiai Choli, kepada Surya.co.id (grup Tribunjatim.com), Minggu petang (12/5/2019).

Kiai Cholil tak tahu persis mengapa terjadi penurunan jumlah santri. Namun menurut pengalamannya, itu biasanya disebabkan kiarena di daerah asal para lansia yang biasa moindok itu sedang dalam kondisi panen padi.

"Pengalaman selama ini, jika terjadi penurunan jumlah santri lansia, itu karena di daerah-daerah sedang panen padi. Umumnya para lansia ikut membantu panen padi keluarganya," tutur Kiai Cholil.

Selama di pesantren, ratusan santri lansia itu tinggal di bagian belakang masjid, yang sudah disulap menjadi tempat tinggal sementara. Segala aktivitas mulai tidur, sahur, hingga buka puasa, mereka lakukan di masjid itu pula.

Meski menyediakan fasilitas listrik dan kebersihan, pihak pondok tidak menarik biaya sepeser pun. "Hanya saja, untuk sahur dan buka puasa, mereka harus beli sendiri di warung-warung sekitar pondok," jelas KH Cholil.

Para lansia sendiri mengaku memilih nyantri karena mendapatkan ketenangan batin dan lebih khusyuk dalam menjalankan ibadah. Juga di sini ada bimbingan khusus dari para kiai.

Alfiah (63), santri lansia asal Bengkulu mengaku sudah lebih dari empat kali setiap bulan puasa mondok di pesantren lansia ini.

Halaman
123
Penulis: Sutono
Editor: Sudarma Adi
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved