Pilpres 2019

Ada Desakan Autopsi KPPS yang Meninggal, Sandiaga: Saya Sudah Terima Surat Edaran IDI

Cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno enggan mengomentari penyebab banyaknya petugas KPPS yang meninggal dunia usai menjalankan tugasnya di Pemilu 2019

Ada Desakan Autopsi KPPS yang Meninggal, Sandiaga: Saya Sudah Terima Surat Edaran IDI
sofyan arif candra /Tribunjatim
Cawapre nomor urut 02 Sandiaga Uno saat berkunjung ke keluarga KPPS yang meninggal di Surabaya, Rabu (15/5/2019) 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sofyan Arif Candra Sakti

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno enggan mengomentari penyebab banyaknya petugas KPPS yang meninggal dunia usai menjalankan tugasnya di Pemilu 2019.

Sandiaga yang tidak mempunyai latar belakang  medis merasa tidak mempunyai keahlian dalam mengomentari hal tersebut.

"Saya bukan ahli medis tidak sepantasnya saya berkomentar. Itu ranahnya para dokter," ucap Sandiaga usai takziyah ke rumah salah satu petugas KPPS yang meninggal di Surabaya, Rabu (15/5/2019)

Terkait adanya desakan autopsi dari beberapa pihak kepada petugas KPPS yang meninggal dunia menurut Sandiaga harus seizin keluarga.

"Tentunya dengan seizin keluarga dan sesuai dengan apa yang IDI sampaikan saya sudah terima surat edarah dari IDI. Tentunya kita tidak ingin bertambah hanya jumlah yang wafat yang masih dirawat sekarang," ucap Sandiaga.

Di Surabaya Sandiaga Uno Silaturahmi ke Rumah Keluarga KPPS yang Meninggal Dunia

Kasus Mayat Korban Mutilasi di Malang, Anjing Pelacak Cium Jejak Pelaku ke Jl Laksamana Martadinata

Jadwal Bazar Ramadan Disdag Pemkot Surabaya, 15 sampai 28 Mei 2019

Menurut Sandiaga, banyaknya petugas KPPS yang meninggal dunia merupakan musibah dan ia berharap penyelenggaraan Pemilu bisa lebih baik kedepannya sehingga musibah yang sama bisa dihindarkan.

Sebelumnya Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) mengeluarkan enam pendapat  terkait petugas KPPS yang meninggal dunia secara mendadak dalam jumlah besar dan kurun waktu yang singkat pada Pemilu 2019.

"Pertama, IDI berpendapat kelelahan bukanlah penyebab langsung kematian mendadak namun dapat menjadi salah satu faktor pemicu atau pemberat sebab kematian," kata Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Dr Daeng M Faqih.

Kedua, IDI sebagai organisasi profesi siap membantu semua pihak yang berwenang dan bertanggung jawab untuk melakukan penelitian mendalam dan atau investigasi yang objektif dan berbasi keilmuan.

Ketiga, IDI meminta agar dokter anggota IDI di Rumah Sakit tempat bertugas membantu sepenuhnya secara optimal, komperhensif, dan bertanggung jawab baik untuk merawat yang sakit maupun dalam rangka melakukan penelitian maupun investigasi.

Keempat, dengan tidak bermaksud mengurangi hak untuk bersuara namun ada baiknya berkoordinasi dengan baik maka untuk anggota IDI lainnya bila memiliki informasi yang penting mengenai kesakitan dan kematian petugas pemilu 2019 dapat disampaikan dan dikordinasikan ke tim kecil PB IDI yang akan dibentuk.

"Kelima, IDI meminta agar masyarakat tenang, tidak perlu berspekulasi atau berprasangka yang terlalu jauh yang dapat berpotensi merusak kesatuan nasional sebelum hasil penelitian dan investigasi disampaikan," kata Daeng.

Keenam, dari hasil penelitian dan investigasi, kita bersama sebagai bangsa perlu merumuskan langkah-langkah konkret agar kematian dan kesakitan pasca penyelenggaraan pemilu seperti saat ini tidak terulang lagi di kemudian hari.

Penulis: Sofyan Arif Candra Sakti
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved