Banyuwangi Kembali Jadi Tempat Mahasiswa Manca Negara Belajar Budaya

Banyuwangi kembali menjadi daerah jujugan program beasiswa pengenalan budaya Indonesia yang digelar Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI.

Banyuwangi Kembali Jadi Tempat Mahasiswa Manca Negara Belajar Budaya
Surya/Haorrahman
13 mahasiswa dari 12 negara akan tinggal di Banyuwangi selama tiga bulan untuk belajar seni budaya di Bnyuwangi yang berjuluk The Sunrise of Java ini 

Selama tiga bulan di Banyuwangi, mereka akan tinggal di homestay sehingga bisa mengenal lebih dekat dengan warga lokal.

Mereka juga akan belajar dan dipandu langsung oleh Sanggar Tari Sayu Grinsing pimpinan Subari. Mereka akan belajar beragam kesenian khas Banyuwangi, diantaranya tarian Mapag Dayoh (menyambut tamu) dan Gandrung Marsan. Juga lagu khas daerah ‘Sorote Lintang Kemukus’.

Sementara itu Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menyampaikan apresiasinya terhadap program yang tujuannya mengenalkan Indonesia melalui pintu budaya ini.

"Diplomasi budaya semacam ini merupakan salah satu cara yang efektif untuk mengenalkan Indonesia kepada dunia. Mereka adalah mahasiswa terpilih, yang tentunya memiliki potensi besar untuk bercerita posistif tentang Indonesia," kata Anas kepada Tribunjatim.com.

Bagi Banyuwangi sendiri, lanjut Anas, program ini sangat bermanfaat karena dapat dimanfaatkan untuk mengenalkan Banyuwangi.

"Semoga semua mahasiswa bisa kerasan dan senang di Banyuwangi. Sehingga saat pulang nanti, mereka bisa bercerita tentang Banyuwangi kepada rekan-rekannya. Saya yakin informasi dari mulut ke mulut seperti ini akan menjadi media promosi yang ampuh dibandingkan media lainnya,” tegas Abdullah Azwar Anas.

Peserta dari Serbia, Natalia Markovic, mengaku sangat senang bisa bergabung dalam program tersebut. Apalagi saat dia tahu akan ditempatkan di Banyuwangi yang menurutnya budaya banywuangi adalah percampuran antara Bali dan Jawa.

“Saya memang sangat tertarik budaya Banyuwangi. Saat banyak yang ingin ke Bali, saya justru tertarik dan memilih Banyuwangi,” kata Natalia yang terharu bahkan sempat menangis saat tiba di Banyuwangi.

Natalia juga mengaku tertarik untuk belajar tari Gandrung. Maklum saja, dia adalah penari balet klasik. “Kurun tiga bulan ini saya harus bisa tari Gandrung. Gandrung itu kostumnya indah, gerakannya juga sangat spesifik. Gak terlalu lamban, tapi sangat pas. Memperkaya wawasan seni tari saya,” imbuhnya. (Haorrahman/TribunJatim.com).

Penulis: Haorrahman
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved