Beri Pelatihan, Disnaker Kabupaten Malang Fasilitasi Penyandang Disabilitas Berwirausaha Batik

Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Malang menggelar pelatihan membatik kepada 50 peserta penyandang disabilitas

SURYA.CO.ID/ERWIN WICAKSONO
Suasana pelatihan membatik yang digelar oleh Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Malang, Senin (20/5/2019). 

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Malang menggelar pelatihan membatik kepada 50 peserta.

17 peserta diantaranya merupakan penyandang disabilitas. Mereka antusias mengikuti jalannya pelatihan yang dilakukan sejak Senin (20/5/2019) sampai enam hari kedepan.

"Kegiatan ini juga memberikan peluang usaha bagi para penyandang disabilitas. Apalagi nantinya ada dua perusahaan yang akan membantu pemasaran hasil kerajinan peserta pelatihan. Kami juga berkoordinasi dengan Bank Jatim terkait modal usaha," terang Kepala Bidang (Kabid)  Pelatihan dan Produktivitas Disnaker Kabupaten Malang, M Yekti Pracoyo ketika mendampingi peserta pelatihan yang berlokasi di Jalan Panji, Kepanjen.

BREAKING NEWS - 3 Mobil Elf Diamankan Polda Jatim, Kapolda Jatim : Ada Benda Dicurigai Bom Molotov

Yekti menambahkan, kegiatan pelatihan ini merupakan program inklusif yang dijalankan pihaknya, untuk memberdayakan masyarakat agar mengenal dunia usaha.

Alasan pemilihan batik sebagai materi pelatihan karena, batik dianggap punya pangsa pasar yang strategis. Yekti berharap kegiatan ini dapat memacu kaum difabel untuk percaya diri melakukan wirausaha.

"Karena budaya lokal dan warisan bangsa, kemudian juga memiliki peluang usaha yang baik di Kabupaten Malang," ungkap Yekti.

Komunitas Bakarang Dau Latih Penyandang Disabilitas di Kota Batu untuk Membuat Kerajinan dari Kayu

Sementara itu, Hamidah pimpinan LPK Ganesha (lembaga di bawah naungan Disnaker Kabupaten Malang) menerangkan, selain materi membatik para penyadang disabiltas mendapat berbagai materi bermanfaat.

"Durasi 6 hari pelatihan. Ada materi pelatihan batik, perbankan, kewirausahaan. Kemudian kami ajarkan bagaimana membuat batik yang berkarakter," beber Hamidah.

Agar dapat mempermudah para kaum difabel memahami materi yang diberikan, Hamidah menerangkan pihaknya menyertakan mentor yang berpengamalan.

Sehingga para difabel dapat mengaplikasikan materi menjadi karya yang bernilai. Setelah mengikuti pelatihan, para kaum difabel mendapatkan sertifikat kompetensi.

KRONOLOGI LENGKAP Mutilasi di Pasar Besar Malang, Kaki Korban Ditato Saat Pingsan Pakai Jarum Sepatu

"Ada mentor yang mendampingi. Sejauh ini tak ada kesulitan. Perusahaan yang akan menampung karya mereka adalah dari Probolinggo dan Kepanjen," tutur Hamidah.

Di sisi lain, salah satu mentor pelatihan Intan Purnama Sari mengaku tak mengalami kesulitan memberikan materi kepada kaum difabel ini. Para kaum disabiltas tuna rungu dan tuna wicara ini tampak antusias menjalankan setiap intruksi mentor dalam membatik.

"Gak ada kesulitan, mereka mengerti apa yang anjarkan. Batik kan seperti melukis dan menggambar jadi mereka antusia," jelas Intan yang merupakan guru SLB Dharma Wanita 01 Pakisaji itu.

Bagi benak Bayu salah satu penyandang tuna rungu peserta pelatihan membatik mengaku senang dengan kegiatan ini. Sambil mencoretkan kuas ke lembaran kain yang sudah diberi motif, Bayu tak henti-hentinya tersenyum.

Pada saat itu, ia membatik dengan motif bunga dengan corak warna berwarna coklat. Pemuda 19 tahun asal Wagir ini mengaku tak kesulitan saat mendapat materi dari para mentor.

"Suka sekali. Gak susah," ungkapnya dengan menuliskan di sebuah kertas. 

Sumber: Surya
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved