Respon Pasar Positif, BFI Finance Gencar Kenalkan Program BFI Srikandi ke Nasabah di Surabaya

Perusahaan pembiayaan PT BFI Finance Indonesia Tbk semakin agresif melakukan edukasi ke program BFI Srikandi yang menyasar segmen perempuan.

Respon Pasar Positif, BFI Finance Gencar Kenalkan Program BFI Srikandi ke Nasabah di Surabaya
SURYA/SUGIHARTO
Branch Manager Product Motorcylce BFI, Yuniar Pungki (kanan) bersama Area Manager BFI Surabaya, Nuzul Ittaqa (dua dari kanan) berdialog dengan pengunjung BFI Pekan Raya Srikandi di GWalk Surbaaya, Sabtu (18/5/2019). 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Perusahaan pembiayaan PT BFI Finance Indonesia Tbk atau BFI Finance semakin agresif melakukan edukasi ke program BFI Srikandi yang menyasar segmen perempuan sebagai nasabahnya.

Apalagi sejak program BFI Srikandi diluncurkan pada Februari 2019 lalu, animo masyarakat khususnya para perempuan cukup positif.

"Hal ini bisa dilihat dari prosentase nasabah perempuan di wilayah Surabaya yang meliputi Surabaya, Sidoarjo dan Gresik yang semakin meningkat," kata Nuzul Ittaqa, Area Manager BFI Finance Surabaya, Sidoarjo, Gresik, disela kegiatan Pekan Raya Srikandi dengan tema 'Mengolah Rasa dan Berbagi Cita Rasa' di GWalk CitraLand Surabaya, Sabtu (18/5/2019).

BFI Finance Agresif Kenalkan Program Srikandi di Surabaya, Sasar Kaum Perempuan di Kampung-kampung

Perluas Pasar Pembiayaan di 2019, BFI Finance Bidik UKM dengan Pengelola Perempuan

Jika sebelumnya kontribusi nasabah perempuan sekitar 42 persen, saat ini naik di angka 48 persen.

"Kami harapkan penyaluran pembiayaan ke perempuan bisa meningkat hingga 50 persen dari total customer kami yang jumlahnya sekitar puluhan ribu," tambah Nuzul.

Guna mencapai target itu, pihaknya terus aktif menggelar program-program mingguan yang langsung terhubung dengan kelompok-kelompok dan komunitas perempuan.

Baik dalam bentuk program layanan maupun program pendampingan untuk mendorong kemandirian dan inklusifitas keuangan bagi perempuan Surabaya.

"Mungkin kami bisa menggandeng Dasawisma atau komunitas-komunitas perempuan lainnya," ujarnya.

Sejauh ini, pengajuan pembiayaan oleh perempuan banyak digunakan untuk sektor produktif.

Misalnya saja pembiayaan untuk modal kerja karena sebagian besar di antaranya adalah pelaku usaha kecil menengah.

Halaman
12
Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Arie Noer Rachmawati
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved