Dokar Hias Masih Ramaikan Lebaran Ketupat di Bangkalan

delman itu masih eksis meramaikan budaya parade dokar hias di setiap Lebaran Ketupat di Desa Jaddih dan Parseh Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan,

Dokar Hias Masih Ramaikan Lebaran Ketupat di Bangkalan
Ahmad Faisol/Surya
Budaya parade dokar hias diDesa Jaddih dan Parseh Kecamatan Socah tetap terjaga di setiap Lebaran Ketupat, Rabu (12/6/2019). 

TRIBUNJATIM.COM, BANGKALAN - Kendati keberadaan dokar di Kabupaten Bangkalan mulai ditinggalkan, namun moda transportasi sejenis delman itu masih eksis meramaikan budaya parade dokar hias di setiap Lebaran Ketupat di Desa Jaddih dan Parseh Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan, Madura,Rabu (12/6/2019).

Ribuan warga dari dua desa bertetangga itu mulai menyemut di sepanjang pinggir jalan pada pukul 07.30 WIB. Mereka tampak saling melepas rindu setelah lama tak bertemu di lebaran kupatan ini.

Mayoritas mereka memilih belum kembali ke tanah rantau untuk berlebaran ketupat di tanah kelahiran. Lebaran Ketupat menjadi budaya masyarakat Madura yang dirayakan seminggu setelah perayaan Idul Fitri.

Di pertigaan Desa Parseh menjadi lokasi pemberangkatan parade dokar hias. Di situ warga setempat meramaikan dengan hiburan orkes dangdut.

Finish berlokasi di depan SDN 1 Jaddih atau sejauh sekitar 3 Km dari lokasi pemberangkatan. Puluhan peserta parade berjalan pelan dengan kawalan mobil patroli Polsek Socah.

Di depan Pasar Jaddih atau 100 meter sebelum finish, masyarakat juga menyediakan panggung orkes dangdut.

"Di panggung (Desa Jaddih) ini juga dijadikan pengundian hadiah. Ada beberapa hadiah bagi peserta parade," ungkap Ketua Panitia Parade Dokar Hias, Arif Wajjra kepada Tribunjatim.com.

Ia menjelaskan, dari tahun ke tahun keberadaan dokar melalui terkikis akibat pergeseran atau modernisasi moda angkutan transportasi.

"Saat sebelum tahun 2000, masih banyak peserta yang menghias cikar (gerobak yang ditarik sapi). Tapi sekarang tinggal dokar," jelasnya kepada Tribunjatim.com.

Persebaya Vs Madura United, M Hidayat Bertekad Bangkit dan Putus Rekor Buruk Bajul Ijo

Yunarto Wijaya Maafkan Kivlan Zen yang Diduga Ingin Membunuhnya, Petik Pelajaran Tentang Kasih

Kasus Mutilasi Guru Honorer Masih Berkembang, Hasil Rekonstruksi Ungkap 1 Calon Tersangka Baru

Kendati demikian, Arif mengaku bangga dengan semangat para pemilik dokar yang masih turut menjaga kelestarian budaya dokar hias.

"Dulu namanya Hias Cikar dan Dokar. Karena cikar tak ada, warga menggantinya dengan pikap dan dorkas untuk menemani dokar," pungkasnya.

Sementara itu, salah seorang tokoh Desa Parseh Abdullah (48) mengunglapkan, parade dokar dan pikap hias di Lebaran Ketupat sekaligus menjadi ajang silaturrahmi warga dua desa dan desa-desa tetangga lainnya.

"Syukurlah sampai sekarang masih terlaksana. Budaya seperti ini dimulai sekitar tahun 1950-1960. Panitianya lintaa generasi," ungkap warga Dusun Jakan Desa Parseh itu.

Abdullah yang pernah menjadi ketua panitia di era tahun 90'an itu berpesan agar kelestarian budaya tersebut tetap terjaga di masa-masa mendatang. (Ahmad Faisol/Tribunajatim)

Penulis: Ahmad Faisol
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved