PDIP Banyuwangi Gelar Halalbihalal & Tahlil Kebangsaan, Doakan Bung Karno Hingga KH Hasyim Asyari

PDIP Banyuwangi Gelar Halalbihalal & Tahlil Kebangsaan, Doakan Bung Karno Hingga KH Hasyim Asyari.

PDIP Banyuwangi Gelar Halalbihalal & Tahlil Kebangsaan, Doakan Bung Karno Hingga KH Hasyim Asyari
SURYA/HAORRAHMAN
PDIP Banyuwangi Gelar Tahlil Kebangsaan Doakan Bung Karno dan Mbah Hasyim 

TRIBUNJATIM.COM, BANYUWANGI - Jajaran PDI Perjuangan Banyuwangi menggelar halalbihalal dan tahlil kebangsaan di Ponpes Mabadiul Ihsan, Tegalsari, Selasa malam (11/6).

Acara dihadiri Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widyatmoko, Ketua DPRD Banyuwangi yang juga ketua PDIP Banyuwangi I Made Cahyana Negara, jajaran pengurus partai berlambang banteng tersebut, serta sejumlah tokoh masyarakat.

Petani Banyuwangi Untung Ratusan Juta dengan Buah Naga Semiorganik

Siap Pertahankan Prestasi di Porprov VI, Banyuwangi Turunkan 437 Atlet

Cerita Liburan Anggota Wantimpres di Banyuwangi, Makan Nasi Tempong dan Nonton Ritual Tari Seblang

Ketua DPC PDIP Banyuwangi I Made Cahyana Negara mengatakan, halalbihalal merupakan tradisi baik untuk menjaga tali silaturahim di antara kader partai dengan masyarakat. “Mari kita saling memaafkan dan ke depan terus bergotong royong meningkatkan kesejahteraan sosial-ekonomi masyarakat,” kata Made.

Made menyampaikan terima kasih kepada seluruh jajaran partai atas kerja keras dan gotong royongnya sehingga PDI Perjuangan mampu mempertahankan kemenangan di Banyuwangi. Bahkan jumlah perolehan kursi DPRD bertambah dari 10 kursi menjadi 12 kursi.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, halalbihalal tidak hanya sebagai tradisi, namun memiliki makna historis yang penting untuk rekonsiliasi nasional.

“Halalbihalal juga bagian dari turunan dari karakter gotong royong yang melekat di bangsa kita," ungkap Azwar Anas yang juga kader PDIP.

Anas kembali menyampaikan tentang munculnya istilah “halalbihalal” di Indonesia yang merupakan hasil dialog Presiden Sukarno dan salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Wahab Chasbullah.

Saat itu, di awal-awal kemerdekaan, situasi politik memanas. Sejumlah pemberontakan juga terjadi di beberapa daerah.

"Dalam kondisi demikian, Bung Karno lantas mengundang para ulama. Di antaranya adalah KH Wahab Chasbullah. Dari pertemuan itulah tercetus gagasan halalbihalal, karena dimaksudkan untuk menghalalkan dan menghapus dosa permusuhan di antara sesama anak bangsa ketika itu," urai Anas.

Gagasan halalbihalal tersebut, benar-benar caspleng. Para tokoh nasional yang awalnya terlibat pertentangan politik bisa bertemu dalam nuansa yang damai pada saat halalbihalal Idulfitri 1948.

"Hingga saat ini, halalbihalal tetap relevan untuk menjadi media rekonsiliasi, termasuk masa-masa saat ini," terang Anas.

Tidak sekadar halalbihalal, acara tersebut juga dirangkai dengan tahlil kebangsaan untuk mendoakan para tokoh bangsa, mulai Presiden Sukarno, KH Hasyim Asyari, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dan Taufiq Kiemas.

“Beliau-beliau adalah tokoh bangsa yang berjuang keras merajut keindonesiaan,” ujar Anas.

Anas menambahkan, acara tersebut sekaligus untuk memperingati haul mantan ketua MPR Taufik Kiemas yang wafat 8 Juni 2013 lalu.

“Pak Taufiq Kiemas berjasa dengan gagasannya untuk mendorong pemahaman terhadap 4 pilar kebangsaan, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Dengan gagasan tersebut, Pak Taufik ingin menguraikan pentingnya menjaga NKRI dengan mengamalkan Pancasila sebagai dasar negara,” ujar Anas.

Penulis: Haorrahman
Editor: Sudarma Adi
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved