Asuransi Tanaman Padi Minim Peminat Petani Tulungagung, Padi Rusak Tak Diganti Karena Puting Beliung

Asuransi Tanaman Padi Minim Peminat Petani Tulungagung, Padi Rusak Tak Diganti Karena Puting Beliung.

Asuransi Tanaman Padi Minim Peminat Petani Tulungagung, Padi Rusak Tak Diganti Karena Puting Beliung
SURYA/DAVID YOHANES
Tanaman padi yang ambruk karena diterjang puting beliung 

TRIBUNJATIM.COM, TULUNGAGUNG - Tahun 2015 pemerintah meluncurkan Asuransi Usaha Tani Tanaman Padi, untuk melindungi tanaman padi para petani dari gagal panen.

Namun ternyata asuransi ini tidak diminati di Tulungagung. Dari luas area tanam padi sekitar 60.000 hektar, hanya 98 hektar yang diikutkan asuransi.

“Pendaftarannya memang dihitung per hektar lewat kelompok tani masing-masing. Jadi tidak ada satu persen yang ikut (asuransi),” ujar Suprapti, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Tulungagung, Suprapti, Selasa (18/6/2019).

Sejumlah Siswa dari Tulungagung Ini Terancam Gagal Masuk SMA Negeri, Karena Sistem Zonasi

Sistem Zonasi Wilayah PPDB SMA/SMK Masih Membuat Bingung Calon Siswa di Kabupaten Tulungagung

Ada 15 Desa di Tulungagung Rawan Kekeringan di Musim Kemarau, BPBD Siap Kirimkan Air Bersih

Lanjutnya, dari luas area tanam ada sekitar 600 hektar yang rawan gagal panen. Faktor pemicunya antara lain serangan hama, kekeringan dan kebanjiran.

Jika dilindungi asuransi, maka tanaman padi yang rusak akan mendapat ganti rugi.

“Bersama DPRD kami sudah studi banding ke Badung, Bali. Di sana para petani disubsidi untuk ikut asuransi ini,” tutur Suprapti.

Karena itu pihaknya akan meniru dengan mengalokasikan subsidi asuransi.

Untuk satu hektar lahan hanya dikenakan Rp 36.000 per hektar per masa tanam. Artinya jika dalam satu tahun bisa menanam empat kali, maka bayar preminya juga empat kali.

“Sudah disetujui untuk memberikan subsidi asuransi. Tapi besarannya yang belum ditentukan,” sambung Suprapti.

Saat awal asuransi ini diluncurkan, petani Tulungagung hampir 100 persen ikut asuransi usaha tani tanaman padi.

Namun saat itu tidak ada kejadian bencana, hingga membuat petani merasa tidak butuh asuransi. Tahun-tahun berikutnya jumlah peminatnya terus menurun.

Selain itu ketentuan klaim asuransi ini tidak mencakup padi yang ambruk karena puting beliung. Padahal jika padi ambruk saat mulai berbuah, maka dipastikan akan gagal panen. Berbeda dengan padi yang ambruk saat sudah berusia hampir panen.

“Kalau hampir panen padinya ambruk, tinggal diikat dan didirikan lagi masih bisa diselamatkan. Tapi kalau baru njebul (keluar buah), pasti rusak,” papar Suprapti.

Selain itu tingkat kerusakan juga harus mencapai 70 persen. Para petani di Beberapa wilayah, seperti Simo Kecamatan Kedungwaru dan di Boyolangu pernah merasakan manfaat asuransi ini. Dua wilayah ini masuk dalam peta rawan gagal panen.

Penulis: David Yohanes
Editor: Sudarma Adi
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved