Idap Depresi Sejak 2014, Perempuan dari Surabaya Salurkan Emosi Dengan Tulis Puisi Lewat 'Axioma'

Idap Depresi Sejak 2014, Perempuan dari Surabaya Ini Salurkan Emosi Dengan Tulis Puisi Lewat 'Axioma'.

Idap Depresi Sejak 2014, Perempuan dari Surabaya Salurkan Emosi Dengan Tulis Puisi Lewat 'Axioma'
ISTIMEWA/TRIBUNJATIM.COM
Wulan Puty dalam peluncuran buku ketiganya yang berjudul Axioma 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Puty Aisya Rahmani Wulansari, perempuan asal Surabaya yang menulis buku berjudul Axioma itu mengaku sempat mengalami depresi.

"Kayaknya sudah sejak 2014 itu ya aku mengalami depresi dan berdampak pada keputusan berhenti kuliah," ujar perempuan yang akrab disapa Wulan Puty itu.

Kisah Beda Pendapat Dengan Orang Tua Hingga Depresi, Diungkap Perempuan Ini Lewat Buku Axioma

Penulis Buku Bongkar Sosok Inspiratif Bang Jarwo Arek Dolly, Dulu Buronan Kini Jadi Pebisnis Sukses

Titian Kreatif Pustaka & MM FEB Unair Apresiasi 5 Tahun Penutupan Lokalisasi Dolly Lewat Bedah Buku

Imbuhnya, pada 2018 ia baru memutuskan untuk pergi ke psikiater bersama sang Bunda. Sampai sekarang, ia pun mengaku masih minum obat, tapi dosisnya sudah berkurang.

Wulan mengaku, masalah mental yang dialaminya berawal dari ketidaksepemahaman yang terjadi antara dirinya dan orangtua.

Untuk menghadapinya, Wulan mengaku jangan memendam depresi itu sendirian. Berbagi dengan orang lain, terbuka, dan mengekspresikannya secara positif menjadi hal yang bisa dilakukan untuk sembuh.

"Dengan berbagi ke orang lain itu menurutku dapat meredam masalah kita ya. Aku sendiri mulai sadar kalau punya masalah mental dan berusaha untuk sembuh itu karena bantuan dari teman dan sahabat," papar Wulan.

Selain itu, menyadari bahwa ada masalah mental dalam diri sendiri, menurut Wulan akan membantu seseorang lebih dapat mengekspresikan dan melampiaskan emosinya ke hal yang positif.

"Dulu aku kalau depresi bisa sampai mau bunuh diri, jadi emosiku berlebihan. Nah semenjak tahu kalau aku ini sakit, aku minta ke orangtua untuk ke psikiater, dari sana aku mulai mengekspresikan emosiku yang berlebihan ini ke hal-hal yang aku suka, menulis salah satunya," jelas Wulan.

Menurut Wulan, menulis juga menjadi caranya mencurahkan depresi yang dialaminya. Sehingga apa yang dirasakannya tidak terpendam sendiri di dalam hati.

Imbuhnya, pengalaman dan bagaimana ia melalui depresi itu dituliskannya melalui puisi dan cerita pendek yang ada pada buku keduanya, berjudul Di Batas Monokrom dan buku ketiganya yang berjudul Axioma.

Selain itu, Wulan pun mengaku mengatasi masalah depresinya dengan berolahraga.

"Kalau marah kan aku biasanya melempar barang atau membenturkan kepala ya. Nah sejak menyadari punya depresi, aku menyalurkannya dengan muai thay," ungkap perempuan asal Surabaya itu.

Penulis: Hefty Suud
Editor: Sudarma Adi
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved