Ketua Dewan Pembina APTRI, Arum Sabil : Impor Gula Seharusnya Dikuasai Negara

kebutuhan gula kita secara nasional bisa mencapai hampir 6 juta ton jika konsumsi gula per kapita 24 kg,” ujar Arum Sabil saat ditemui di Surabaya

Ketua Dewan Pembina APTRI, Arum Sabil : Impor Gula Seharusnya Dikuasai Negara
TRIBUNJATIM.COM/AULIA FITRI HERDIANA
Arum Sabil, Ketua Dewan Pembina APTRI saat memberi keterangan di Surabaya 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Dari tahun ke tahun, persoalan gula sepertinya masih menjadi polemik. Hal itu disebabkan karena kebutuhan konsumsi gula secara nasional terus meningkat dan tidak sebanding dengan produksi gula yang dihasilkan pabrik gula di dalam negeri secara nasional.

 Ketua Umum Dewan Pembina DPP Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) HM Arum Sabil mengatakan, 5 tahun yang lalu, komsumsi gula per kapita masih tercatat 18 kg. Namun info terbaru yang diterimanya, komsumsi gula per kapita kini sudah mencapai 22-24 kg.

 “Coba kalikan dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai sekitar 260 juta jiwa, kebutuhan gula kita secara nasional bisa mencapai hampir 6 juta ton jika konsumsi gula per kapita 24 kg,” ujar Arum Sabil saat ditemui di rumahnya di Gayung Sari Barat, Surabaya, Senin (17/06).

Ironisnya, produksi gula secara nasional dari tahun ke tahun terus menurun. Dari catatan Arum Sabil, produksi gula 5 tahun yang lalu masih tercatat di angka 2,5 juta ton. Namun, tahun 2018, produksi gula secara nasional turun menjadi 2,1 juta ton.

“Tahun ini, produksi gula secara nasional bahkan berpotensi anjlok dibawah 2 juta ton,” tambahnya.

Korban Kapal Motor Arin Jaya, 17 Janazah Pagi Ini Dibawa ke RSUD H. Moh. Anwar Sumenep

Diprotes Petani Tebu Merugi Akibat Impor Gula Berlebih, Presiden Jokowi Langsung Beri Tanggapan

Aura Kasih Melahirkan Putrinya Belum 9 Bulan Undang Pertanyaan, Istri Eryck Amaral Beri Penjelasan

Kondisi ini sesuai fakta di lapangan, dimana luas tanaman tebu secara nasional juga terus menyusut. Jika 2-3 tahun yang lalu, luas tanaman tebu masih berkisar 470 ribu-500 ribu hektar, kini luas tanaman tebu secara nasional menyusut menjadi 400 ribu hektar.

 Sementara, kebutuhan gula secara nasional untuk konsumsi serta industri makanan dan minuman sudah mencapai 5,7-6 juta ton. Sedangkan untuk kebutuhan rumah tangga sekitar 3 juta ton.

“Kalau untuk kebutuhan industri mamin sudah selesai  dengan gula rafinasi. Tapi untuk kebutuhan rumah tangga ini kan ada idle hampir 1 juta ton. Jika produksi gula secara nasional dibawah 2 juta ton bisa bahaya,” ujar lelaki asal Jember ini.

Untuk itu, pemerintah harus segera melakukan pembenahan di sektor gula, salah satunya membenahi tanaman tebu varietas unggul dan menghidupkan kembali riset penelitian tentang tanaman tebu.

“Harapan pemerintah, petani tebu bisa menghasilkan 100 ton tebu per hektar. Tapi faktanya sekarang justru dibawah 70 ton per hektar.” imbuhnya.

 Terkait kebutuhan gula yang selama ini harus impor, sebagai perwakilan petani tebu rakyat, Arum Sabil berharap negara di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo bisa ikut andil.

“Impor itu jangan sampai dikuasai oleh swasta. Maka, impor itu harus dikuasai oleh negara. Impor dihadirkan bukan untuk memukul atau mematikan, tapi untuk kepentingan stabilitas harga yang bisa mendatangkan efek yang bermanfaat,” katanya.

Dengan melibatkan perusahaan milik negara atau BUMN, impor gula nantinya bisa bermanfaat untuk negara dan rakyat.

Bahkan, hasil keuntungannya bisa digunakan negara untuk mensubsidi, membenahi dan merevitalisasi pabrik-pabrik gula yang sudah tua.

“Kalau sampai impor dikuasai oleh swasta, mereka hanya berburu keuntungan dan tidak memikirkan Indonesia menuju kemandirian pangan yang berdaya saing,” pungkasnya.

Penulis: Yoni Iskandar
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved