Seniman Irama Budaya Tetap Pentaskan Ludruk di THR Surabaya

Di tengah polemik somasi pengosongan, Kelompok Irama Budaya Sinar Nusantara masih tetap menghidupkan kesenian ludruk di THR Surabaya.

Seniman Irama Budaya Tetap Pentaskan Ludruk di THR Surabaya
delyaoctovie/surya
Diskusi Luduruk Surabaya di kantor harian Surya Surabaya 

 TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Di tengah polemik somasi pengosongan, Kelompok Irama Budaya Sinar Nusantara masih tetap menghidupkan kesenian ludruk di THR Surabaya.

Mereka menggelar pertunjukkan ludruk di Gedung Ludruk THR, Sabtu (15/6) malam.

Kala itu, mereka mempersembahkan ludruk dengan lakon Geger THR. Cerita di dalam ludruk menggambarkan betapa pilunya nasib seniman THR yang dirasakan kini dan kekuatan musyawarah.

Beberapa pekan yang lalu, para Seniman Irama Budaya Sinar Nusantara juga mendapatkan surat somasi pengosongan Taman Hiburan Rakyat (THR) dari Kejaksaan Negeri Surabaya. Itu artinya, serupa dengan seniman THR lain, mereka harus hengkang dari lahan dan bangunan aset Pemkot itu.

Sekretaris Irama Budaya Sinar Nusantara, Meimura, mengatakan, dirinya dan para anggota bingung meletakkan perlengkapan pertunjukan. Sebab, Irama Budaya Sinar Nusantara merupakan ludruk tobong. Mereka berpindah-pindah tempat pertunjukan dengan membawa seluruh perlengkapannya.

"Dari tahun ke tahun perlengkapan kami semakin banyak. Taruh dimana perlengkapan kami kalau sementara kami belum dapat tempat untuk nobong. Kami bersedih akan hal ini," katanya, Sabtu (17/6).

Korban Kapal Motor Arin Jaya, 17 Janazah Pagi Ini Dibawa ke RSUD H. Moh. Anwar Sumenep

Curhatan Mayangsari Soal Keluarga serta Orang Tua, Ungkap Sifat Asli dan Ekspos Wajah Besan Soeharto

Tindak Cepat Tangani Laka Laut KM Amin Jaya, Khofifah Perintahkan OPD Turun Tangan Bersama Aparat

Dia menceritakan, Irama Budaya Sinar Nusantara sejak 1999 tampil dan nobong di beberapa tempat di Kota Surabaya secara berpindah-pindah. Terakhir mereka nobong di wilayah Wonokromo.

"Tahun 2010 kami diundang oleh UPTD THR. Kami diundang untuk tampil dan meramaikan THR. Hingga kini kami tetap konsisten menggelar pertunjukan. Kami juga tak menetap, kami punya tempat tinggal. Beberapa dari anggota di THR hanya menjaga peralatan dan merawat Gedung Ludruk," ucapnya kepada Tribunjatim.com.

Meimura tak habis pikir dengan adanya somasi pengosongan secara tiba-tiba. Para seniman pun hanya diberi waktu yang cukup singkat, 2 pekan untuk angkat kaki.

"Saya paham apa yang dipikirkan Pemerintah Kota Surabaya memberikan kuasa khusus kepada pengacara negara untuk mengembalikan aset. Tapi juga tolong dipahami bawa kami tak bisa serta-merta keluar. Karena kami datang membawa semua perlengkapan ini dan keluarga yang telah sepuh," jelasnya.

Halaman
12
Penulis: Mohammad Romadoni
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved