Kisah Pemilah Sampah di Gunung Limbah Kertas Impor Pungging Mojokerto, Sekolahkan Anak Hingga S2

Tumpukan scrap kertas bekas bercampur limbah plastik hingga Limbah B3 di Desa Bangun, Kecamatan Pungging Mojokerto menjadi perhatian Pemprov Jatim

Kisah Pemilah Sampah di Gunung Limbah Kertas Impor Pungging Mojokerto, Sekolahkan Anak Hingga S2
TRIBUNJATIM.COM/Febrianto Ramadani
anak anak desa bangun, kecamatan pungging, kabupaten mojokerto sedang bermain main di tumpukan limbah yang berbukit bukit, Rabu Siang (19/6/2019) 

TRIBUNJATIM.COM, MOJOKERTO - Tumpukan scrap kertas bekas di Desa Bangun, Kecamatan Pungging Mojokerto menjadi perhatian Pemprov Jatim.

Material ini diimpor oleh Pabrik Kertas sebagai bahan baku pembuat kertas. namun sayangnya, material yang dikirimkan diketahui bercampur limbah plastik hingga Limbah B3.

Kendati Gubernur Khofifah Indar Parawansa mengupayakan pengembalian suplai limbah ini ke negara asal, sejumlah warga melakukan penolakan.

Satu di antaranya ialah Giman (56), sehari-hari dia bekerja mengelola dan memilah-milah limbah di gunungan limbah tersebut.

(Hidupi Keluarga dari Sampah, Warga Mojokerto Minta Gubernur Khofifah Tak Hentikan Suplai Sampah)

Menurut Giman, kebutuhan sehari hari keluarganya tercukupi melalui kerjanya sebagai pengepul dan mengelola limbah kertas yang berasal dari PT Prakerin (Pabrik Kertas Indonesia).

"Bisa makan sehari hari. Kalau dihitung dalam setahun bisa menyekolahkan anak ke S2." Ungkap Giman kepada Tribunjatim di lokasi pengelolaan limbah kertas, Rabu siang (19/6/2019).

Hal senada juga diungkapkan oleh Amy (32), warga yang juga bertempat tinggal di Desa Bangun, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto.

Selain memilah limbah kertas, Pria yang pekerjaanya sebagai pemilah sampah plastik dan sampah kaleng itu rata rata mendapatkan penghasilan sekitar 700 ribu rupiah per hari.

" Banyak sekali macam macam limbah yang saya pilah untuk dijual. Seperti limbah plastik, limbah kertas, dan limbah kaleng." Ungkap Amy.

(Bakar Sampah Kering, Api Merembet ke Warung Makan di Tuban, Nyaris Ludes Terbakar)

Menurut Amy, Limbah yang paling dicari adalah limbah plastik, rata rata dibeli oleh industri rumah tangga dan industri besar sebagai bahan bakar produksi industri.

"Kalau limbah plastik sendiri bisa diolah lagi menjadi bahan bakar industri. Baik industri rumah tangga seperti pabrik tahu maupun industri besar." Ujarnya.

Limbah bahan baku kertas bekas ini sudah muncul pada tahun 1990 an. Limbah ini terkontaminasi oleh limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) dan limbah plastik.

Sebagian besar masyarakat Desa Bangun berprofesi sebagai pemilah dan pengepul sampah dari limbah bahan baku kertas bekas yang dihasilkan dari PT Prakerin.

(Hidupi Keluarga dari Sampah, Warga Mojokerto Minta Gubernur Khofifah Tak Hentikan Suplai Sampah)

Penulis: Febrianto Ramadani
Editor: Anugrah Fitra Nurani
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved