Bocah 8 Tahun Ini Panjat Tebing Sepikul Trenggalek dalam Indonesia Climbing Festival

Zidan El Kahfa (8) lekas-lekas memakai peralatan panjat tebing ketika sampai di jalur baru di Tebing Sepikul, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek

Penulis: Aflahul Abidin | Editor: Yoni Iskandar
AFLAHUL ABIDIN/SURYA
Zidan Al Kahfa (8), peserta Indonesia Climbing Festival di Tebing Sepikul, Trenggalek menaiki salah satu jalur baru, Jumat (21/6/2019). 

TRIBUNJATIM.COM, TRENGGALEK - Zidan El Kahfa (8) lekas-lekas memakai peralatan panjat tebing ketika sampai di jalur baru di Tebing Sepikul, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, Jumat (21/6/2019).

Tangan dan kakinya cekatan meraih satu demi satu celah batu untuk sampai ke titik atas setinggi 25 meter. Sesekali, Zidan tampak kesulitan meraih celah yang agak jauh. Namun, hal itu bisa lekas di atasi.

Jalur yang dilewati Zidan memang dibuat untuk pemula. Tingkat kesulitannya antara 5.9 hingga 5.10. Sementara kemiringan tebing antara 75 sampai 80 derajat. Jalur itu disiapkan Panitia Indonesia Climbing Festival 2019.

Selain Zidan, ada banyak peserta lain yang juga turut andil bagian untuk memanjat dalam festival yang digelar hingga esok, Sabtu (22/6/2019), itu.

"Seru. Gampang, tapi juga agak susah. Susahnya pas naik di ketinggian itu," ujar bocah kelas 3 sekolah dasar itu.

Meski masih kecil, panjat tebing bukan hal baru bagi Zidan. Ia sudah mulai belajar memanjat tebing setahun lalu. Sudah sekitar 10 kali ia pernah memanjat tebing.

Dalam festival itu, ia datang bersama kakak dan orang tuanya. Mereka memanjat bersama-sama.
Dua jalur panjat tebing baru itu letaknya berdampingan. Jenis pendakiannya lead dan top rope.

Zidan memanjat untuk jenis lead. Sementara kakaknya, yang usianya lebih tua 4 tahun, memilih jeis top rope.

Hadirnya dua anak-anak itu menunjukkan bahwa panjat tebing dalam festival dipastikan aman. Bagi mereka yang baru pertama kali mencoba pun tak akan menemui masalah berarti.

Ringgo Yudhistira, Koordinator Teknis Pemanjatan Indonesia Climbing Festival 2019 di Sepikul, mengatakan, ada jalur yang dipakai dalam festival itu. Termasuk dua jalur baru.

"Jalur tetap yang permanen ada sekitar delapan. Jalur yang paling tinggi sampai puncak ada dua. Tapi tidak semua jalur kami pakai," tuturnya, dalam kegiatan yang sama.

Jalur-jalur itu termasuk yang tak terlalu ekstrem. Tingkat kesulitannya 5.9 sampai 5.10. Sementara jalur yang punya tingkat kesulitan paling tinggi, yakni 5.11, tak dipakai.

Raffi Ahmad Ngeprank Mama Rieta Izin Menikah Lagi, Sang Mertua Sampai Marah-marah: Gak Punya Hati!

Deddy Corbuzier Resmi Masuk Islam, Ini Sosok Gus Miftah yang Tuntun Deddy Ucapkan Kalimat Syahadat

Kantor Dindik Surabaya Steril, Wali Murid Tunggu di Luar Gerbang

"Yang landai-landai saja. Tingkat kemiringannya tidak sampai 90 derajat," ucap dia.

Jacky Wicaksoo (41), salah satu peserta festival, mengaku tertarik untuk mencoba beberapa jalur di Sepikul. Sebagai orang yang sudah lama bergelut dengan dunia panjat tebing, kesulitan-kesulitan di tiap jalur membuatnya semakin tertantang.

"Ini juga mau naik juga untuk ambil foto-foto dulu. Nanti mencoba jalur yang lain," katanya, ketika hendak naik salah satu jalur baru.

Dari atas tebing itu, pemandangan hijau Trenggalek bisa dinikmati. Hamparan sawah, bukit, dan pepohonan menjadi panorama yang menonjol. (aflahul abidin/Tribunjatim)

Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved