Lebih dari 400 Warga Pacitan Terkena Hepatitis A, Dinkes Jatim Turun Tangan Sosialisasi Hidup Bersih

Lebih dari 400 Warga Pacitan Terkena Hepatitis A, Dinkes Jatim Turun Tangan Sosialisasi Hidup Bersih.

Lebih dari 400 Warga Pacitan Terkena Hepatitis A, Dinkes Jatim Turun Tangan Sosialisasi Hidup Bersih
SURYA/FATIMATUZ ZAHROH
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur Kohar Hari Santoso saat diwawancarai di Gedung Grahadi, Jumat (5/4/2019). 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Dinas Kesehatan Jatim memberikan perhatian khusus terhadap ratusan warga Pacitan yang terkena Hepatitis A.

Kepala Dinas Kesehatan Jatim, Kohar Hari Santoso menyebut pemerintah telah melakukan langkah preventif dan juga penindakan kepada ratusan pasien tersebut.

20 Puskesmas di Kabupaten Sampang Kekurangan Tenaga Apoteker, Dinkes: Baru Ada di 2 Wilayah Saja

Ini Tips Berkendara Arus Balik dari Dinkes Jatim, Bawa Bekal & Manfaatkan Akupresur di Pos Kesehatan

Jelang Mudik, Dinkes Kabupaten Gresik Periksa Kesehatan Supir Bus di Terminal Bunder Tiap Hari 

Berdasarkan penjelasan Kohar, hingga Sabtu (22/6/2019) malam, jumlah pasien terduga Hepatitis A mencapai 429 orang yang tersebar di tiga kecamatan di Pacitan. Yakni, Sudimoro, Ngadirojo, dan Tulakan.

"Angkanya masih terus bergerak. Terbanyak, ada di Kecamatan Sudimoro," kata Kohar ketika dikonfirmasi di Surabaya, Senin (24/6/2019).

Menyikapi meningkatnya kasus Hepatitis A tersebut, Dinkes Prov Jatim telah hadir dengan mendampingi Dinkes Pacitan.

Selama pendampingan, pihaknya melakukan bimbingan langsung terkait tata laksana pasien, surveilans, dan pengendalian risiko penularan.

"Langkah pengendalian yang butuh dilakukan kita akronimkan menjadi TaSPen. Ini merupakan kepanjangan dari Tata Laksana pasien, Surveilans yang intens, dan Pengendalian risiko infeks," kata Kohar menjelaskan.

Terkait tata laksana pasien, Dinkes mengingatkan tirah baring (bedrest) sampai ikterus negatif atau kadar bilirubin kurang dari 1 gram. Kemudian, diet bergizi tinggi dengan ditunjang obat supportif / roborantia.

Selain itu, juga isolasi dan higiene individu agar tidak menjadi sumber penular. Petugas juga menggunakan sarung tangan dan cuci tangan alkohol 96 persen bergliserin, utamanya sebelum maupun setelah kontak langsung dengan pasien.

Sejumlah surveilans juga disiapkan untuk pemantauan berkelanjutan agar mampu memetakan sebaran kasus, faktor risiko, dan langkah penanganan. Upaya ini dilakukan di antaranya dengan mengisi sistem kewaspadaan dini dan respon (SKDR) secara tertib dan akurat.

Halaman
12
Penulis: Bobby Constantine Koloway
Editor: Sudarma Adi
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved