Wali Kota Sutiaji Pusing Mikir Sampah di Kota Malang Sampai Tak Bisa Tidur : Lahan Sampahnya Sempit

Wali Kota Sutiaji Pusing Mikir Sampah di Kota Malang Sampai Tak Bisa Tidur : Lahan Sampahnya Makin Sempit di TPA Supit Urang.

Penulis: Rifki Edgar | Editor: Sudarma Adi
SURYA/RIFKI EDGAR
Wali Kota Malang Sutiaji mengimbau masyarakat Kota Malang tak hadir ke Jakarta untuk melihat sidang sengketa Pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi, Kamis (13/6/2019). 

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Wali Kota Malang Sutiaji tak bisa tidur lantaran memikirkan sampah yang ada di Kota Malang.

Hal itu ia ucapkan saat mengunjungi TPA Supit Urang belum lama ini.

"Saya itu gak bisa tidur, mikirin bagaimana ke depannya mengatasi sampah ini. Karena yang kena ya Wali Kota, dan semua kepala daerah pasti berpikir berkaitan sampah," terangnya.

Sempurnakan Ekowisata Andeman di Sanankerto Kabupaten Malang, UMM Bangun PLT Berbasis Mikro Hidro

Diduga Sakit Sesak Nafas, Satpam Bank BTN di Kota Malang Ini Tewas Tertelungkup di Dapur Rumah

Gebyar Bamboo Lira-Liru Turen Malang, Pengunjung Diajak Santap Sego Empog

Apa yang dikatakan Sutiaji merupakan buntut dari semakin sempitnya lahan sampah yang berada di TPA Supit Urang.

Susahnya mendapatkan lahan baru, dan produksi sampah yang mencapai 500 ton di TPA Supit Urang membuat orang nomor satu di Kota Malang itu berfikir cara untuk melakukan pengelolaan sampah.

Untuk itu, Sutiaji meminta kepada masyarakat untuk melakukan pedoman 3R (Reduce, Reuse, Recycle).

Hal itu dilakukan untuk meminimalisir sampah terutama di lingkungan warga dan di TPS.

"Lha ini akan kita coba terapkan sambil edukasi ke masyarakat, mulai dari rumah itu agar di TPA Supit Urang ini tidak over, dari 500 ton per hari menjadi 300-400 ton," ujarnya.

Tak hanya itu, Sutiaji menyampaikan, bahwa permasalahan sampah ini sudah masuk dalam peraturan Wali Kota.

Oleh karena itu, dalam pengelolaan sampah ini, ia membutuhkan sinergi dari semua pihak agar sampah ini tidak menjadi momok menakutkan bagi Kota Malang.

"Kita sudah tidak punya lahan, dan harus ada penambahan lahan baru. Untung saja di sini ada lahan untuk proses komposing yang setiap harinya mampu memproses 35 ton sampah, dan yang perlu dikomposing tentunya sampah basah bukan sampah plastik," pungkasnya.

Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved