Ada 27 Desa di Sumenep yang Diprediksi Alami Kekeringan, BPBD Usul Desa Bersinergi Bangun Tandon

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep, Abd Rahmad Riyadi, menyampaikan bahwa musim kemarau sudah masuk sejak bulan Mei 2019 lalu.

Ada 27 Desa di Sumenep yang Diprediksi Alami Kekeringan, BPBD Usul Desa Bersinergi Bangun Tandon
SURYA/HANIF MANSHURI
ilustrasu distribusi air 

TRIBUNJATIM.COM, SUMENEP - Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep, Abd Rahmad Riyadi, menyampaikan bahwa musim kemarau sudah masuk sejak bulan Mei 2019 lalu.

Abd Rahman Riyadi memprediksi, beberapa daerah di wilayah sumenep akan mengalami kekeringan.

“Sesuai data BPBD Sumenep, terdapat 27 Desa yang rawan kekeringan, 10 desa masuk kekeringan kritis dan 17 desa masuk zona kekeringan langka,” katanya, Selasa (25/6/2019).

Untuk mengantisipasi kebutuhan air, BPBD mengimbau kepada kepala desa agar berkoordinasi dengan desa lain untuk mengantisipasi kekurangan air.

(BPBD: 566 Desa di Jawa Timur Berpotensi Rawan Kekeringan di Musim Kemarau 2019)

“Setidaknya kepala desa bersinergi dengan desa tetangga untuk mengatasi kekeringan dan kekurangan air, hal itu merupakan program jangka panjang, sedangkan program jangka pendek pihak kami, akan mensuplai air,” paparnya.

Rahman memastikan Dana Desa bisa digunakan untuk pelaksanaan kegiatan Program penanggulangan kekeringan.

“Sesuai aturan, DD (Dana Desa) bisa digunakan untuk penanggulangan bencana salah satunya kekeringan,” terangnya.

Hal itu menurutnya sudah sesuai Permendes (Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi).

(Puluhan Desa di Kabupaten Sampang Mengalami Kekeringan, Sebagian Wilayah Kondisinya Kering Kritis)

Penanggulangan kekeringan bisa dilakukan dengan pengadaan tandon air bekerja sama antar des.

Menurut Rahman, melalui kajian sebelumnya menilai, distribusi air manual seperti drigen ke desa dirasa akan sangat lambat sekali.

“Pemakaian tandon, akan lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan pendistribusian air melalui tangki, paling tidak membutuhkan 15 menit sudah selesai apabila pakai tandon," katanya.

Selain ada upaya membantu antar desa, juga bisa dijadikan sebagai sumber pendapatan desa melalui PADes (Pendapatan Asli Desa), dengan segala pengaturannya melalui Anggaran Pendapatan Belanja Desa (APBDes).

Reporter: TribunMadura.com, Ali Hafidz Syahbana

(Mulai Musim Kemarau, Puluhan Hektar Sawah di Tulungagung Kekeringan, Gagal Panen Mengancam)

Penulis: Ali Hafidz Syahbana
Editor: Anugrah Fitra Nurani
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved