Panen Garam di Musim Kemarau 2019 Buat Petani Terpuruk, Harga Garam di Pamekasan Terpantau Anjlok

Sejak memasuki panen garam di musim kemarau tahun 2019 ini, petani garam kembali terpuruk.

Panen Garam di Musim Kemarau 2019 Buat Petani Terpuruk, Harga Garam di Pamekasan Terpantau Anjlok
TRIBUNMADURA.COM/KUSWANTO FERDIAN
Petani Garam di Desa Pandan, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan, Selasa (2/7/2019). 

TRIBUNJATIM.COM, PAMEKASAN - Sejak memasuki panen garam di musim kemarau tahun 2019 ini, petani garam kembali terpuruk akibat harga garam rakyat sejak awal panen hingga pertengahan tahun 2019 ini terus mengalami penurunan.

H. Fathor Rakhim, petani garam asal Desa Pandan, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan, menjelaskan bahwa harga garam rakyat sekarang menurun drastis, yang awalnya harga Rp 1.200 rupiah per kilogram, kini turun hingga Rp 900 rupiah per kilogram.

“Nah sekarang malah turun lagi ke Rp 600, Rp 500 sampai ke 400 per kilogram. Harga tersebut sampai di pabrikan, bukan di atas ladang petani. Jadi hingga saat ini turun drastis, harga garam rakyat anjlok justru pada saat musim panen tahun 2019,” katanya kepada TribunMadura.com, Selasa (2/7/2019).

Tak Pulang hingga Larut Malam, Pemilik Toko Mebel di Pamekasan Ditemukan Tewas Bersimbah Darah

Menurutnya, hasil produksi garam untuk tahun 2018 masih tersisa, ditambah dengan hasil produksi tahun 2019 yang sedang panen.

“Situasi tersebut membuat para petani kebingungan mau dijual kemana, sedangkan beberapa pabrikan banyak yang belum membeli dengan alasan stock masih banyak,” tuturnya.

Lebih lanjut H. Fathor mengatakan, ada beberapa faktor yang menyebabkan hal itu terjadi karena regulasi impor yang tidak berpihak pada rakyat (petani garam).

“Analisa saya, ketika panen, garam impor masih datang, sedangkan stock di gudang-gudang pabrikan masih ada, sehingga pada saat panen belum bisa membeli garam rakyat dengan alasan gudang masih penuh,” jelasnya.

Dituding Pungli, Lurah Kolpajung Pamekasan Diminta Turun Jabatan dan Pergi dari Desa

Ia berharap, kebijakan pemerintah berkenaan dengan tata niaga garam lebih berpihak kepada petani garam sebagai anak bangsa.

Kemudian bagaimana caranya garam rakyat dapat terserap optimal dengan harga yang layak, khususnya pada saat masa panen, sedangkan regulasi impor agar diatur lebih proporsional dengan pengawasan yang ketat.

“Kami berharap seperti itu, jadi pemerintah dalam memberikan kebijakan lebih berkeadilan dengan memperhatikan kesejahteraan petani garam," harapnya.

Sementara itu, Yoyok R. Effendi, Sekretaris Komisi Garam Pamekasan saat dikonfirmasi menjelaskan, bahwa Komisi Garam Pamekasan sudah mengadakan rapat koordinasi dengan instansi.

Koordinasi tersebut terkait secara intensif yang difasilitasi oleh Bagian Administrasi Perekonomian Sekretariat Kabupaten Pamekasan guna mengupayakan jalan keluar solutif membantu petani garam yang sedang mengalami keterpurukan dengan anjloknya harga dan tersendatnya penjualan garam rakyat justru pada saat masa panen.

“Kami juga bersama beberapa tokoh petani garam sudah menghadap Bupati Pamekasan, H. Badrut Tamam guna mendiskusikan keadaan petani garam yang sedang terpuruk, dan Pak Bupati juga bergerak cepat, beliau sudah bertemu dengan Direksi PT Garam (Persero) guna mengupayakan solusi secara bersama, dan Insha Allah dalam waktu dekat beliau akan menemui kementerian terkait ini di Jakarta," tegasnya.

Penulis: Kuswanto Ferdian
Editor: Melia Luthfi Husnika
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved