Banyak Kecelakaan di Tol Ngawi-Kertosono Akibat Pecah Ban dan Ngantuk, Ini yang Dilakukan PT JMTO

Banyak kecelakaan di ruas tol Ngawi-Kertosono diakibatkan ban pecah dan ngantuk. Begini yang dilakukan PT JMTO!

Banyak Kecelakaan di Tol Ngawi-Kertosono Akibat Pecah Ban dan Ngantuk, Ini yang Dilakukan PT JMTO
SURYA/RAHADIAN BAGUS
Petugas gabungan, terdiri dari PT JMTO, Sat PJR Polda Jatim, dan Dishub Nganjuk menggelar operasi Pekan Operasi Keselamatan Transportasi dan Batas Kecepatan. 

TRIBUNJATIM.COM, MADIUN - Masih banyak masyarakat atau pengendara yang tidak mentaati peraturan dalam berlalu-lintas saat menggunakan jalan tol.

Padahal, aturan tersebut dibuat untuk mencegah terjadinya kecelakaan.

Oleh sebab itu, PT Jasamarga Ngawi Kertosono Kediri (JNK) yang dilaksanakan PT Jasamarga Tolroad Operator (JMTO) selaku pelaksana, PJR Polda Jatim, dan Dishub Nganjuk menggelar Pekan Operasi Keselamatan Transportasi dan Batas Kecepatan.

Operasi dengan sasaran kendaraan pengangkut barang itu dilaksanakan di jalur Tol Madiun-Nganjuk KM 626 A atau tepatnya di Rest Area Saradan, Kamis (4/7/2019) siang.

Potongan Kaki Manusia Ditemukan di Jalan Tol Ngawi-Kertosono, Diperkirakan Sudah Sekitar Seminggu

"Hari ini, kami melaksanakan Pekan Operasi Keselamatan Transportasi dan Batas Kecepatan. Intinya kami ingin agar masyarakat mematuhi peraturan dan menjunjung tinggi keselamatan saat berkendara," kata Manager Trafic Management JMTO, Manyuk Irwan Danus, saat ditemui di lokasi.

Dia mengatakan, 42 persen dari total  kecelakaan yang terjadi di ruas Tol Ngawi-Kertosono, selama Januari hingga Juni 2019, disebabkan karena pecah ban.

Sementara, 37 persen di antaranya disebabkan karena pengendara mengantuk.

Pengguna Jalan Terheran-heran Pengendara Motor Masuk Tol Ngawi-Kertosono, Rekam Video Saat Melintas

"Data yang kami miliki, kendaraan golongan I dan II, yang paling banyak mengalami kecelakaan akibat ban pecah dan ngantuk. 42 persen disebabkan ban pecah, 34 persen karena ngantuk, dan sisanya penyebab lain," jelasnya.

Dikatakan Manyuk, ban pecah bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Di antaranya, ban sudah expired, ban vulkanisir, ban tipis, dan beban atau muatan melebihi tonase.

"Bisa disebabkan, kondisi ban yang memang sudah tidak layak, mungkin belinya sudah expired, vulkanisiran, atau karena beban muatan yang terlalu berat," katanya.

Halaman
123
Penulis: Rahadian Bagus
Editor: Arie Noer Rachmawati
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved