Demi Pilwali Surabaya 2020, Whisnu Harus Terima Posisinya Diganti Adi Sutarwijono sebagai Ketua DPC

PDI Perjuangan memutuskan menunjuk Adi Sutarwijono sebagai Ketua DPC PDIP Kota Surabaya menggantikan posisi Whisnu Sakti Buana.

Demi Pilwali Surabaya 2020, Whisnu Harus Terima Posisinya Diganti Adi Sutarwijono sebagai Ketua DPC
TRIBUNJATIM.COM/NURUL AINI
Whisnu Sakti Buana 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sofyan Arif Candra Sakti

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - DPP PDI Perjuangan memutuskan menunjuk Adi Sutarwijono sebagai Ketua DPC PDIP Kota Surabaya menggantikan posisi Whisnu Sakti Buana.

Peneliti Surabaya Survey Center (SSC) menilai penggantian kursi ketua DPC PDIP Kota Surabaya tersebut mempunyai beberapa tujuan.

Salah satunya adalah memberikan ruang kepada Whisnu Sakti Buana, agar semakin fokus menatap Pemilihan Wali Kota (Pilwali) 2020 yang tinggal 15 bulan lagi yaitu September 2020.

Hasil Konfercab Serentak PDIP Zona 3, Dwi Riyanto Jatmiko Kembali Terpilih Jadi Ketua DPC Ngawi 

”Bisa jadi DPP sedang memberikan kesempatan untuk Mas Whisnu biar fokus di persiapan Pilwali,” ujar Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Trunojoyo Madura tersebut, Senin (8/7/2019).

Apalagi saat ini peta persaingan lebih kompetitif karena tak ada lagi figur sangat kuat seperti Tri Rismaharini.

Surokim menyebutkan berdasarkan survei SSC yang dirilis Januari 2019 lalu, nama Whisnu memang masih cukup kuat. Namun, masih jauh dari angka psikologis 50 persen. Data SSC menyebutkan, elektabilitas Whisnu Sakti 15,4 persen.

”Sehingga jalan yang paling elegan saat ini (adalah) menerima (keputusan Megawati) itu dengan legowo, lalu mencoba fokus persiapan Pilwali. Lebih baik jika Mas Whisnu legowo dan fokus pada persiapan Pilwali Surabaya 2020,” ujar Surokim.

Kisruh Konfercab PDIP Bojonegoro Bikin Diskors, Ketua DPC PDIP Sebut Ada Pihak Ketiga yang Tunggangi

Di dalam dunia politik, lanjut Surokim keputusan yang diambil memang sangat dinamis sehingga harus bisa melihat dengan jernih situasi faktual yang ada.

”Reaksi Mas Whisnu dan pendukungnya bisa kontrapraduktif. Dengan melawan DPP, peluang Mas Whisnu akan semakin kecil di DPP (untuk pencalonannya di Pilwali 2020),” imbuhnya.

Dalam pembacaan Surokim, PDIP adalah partai dengan komando yang kuat.

Dengan tidak menolak keputusan Megawati, lanjut Surokim, itu sekaligus mengurangi tensi politik dan mengeliminasi faksi-faksi di PDIP Surabaya.

Sehingga seluruh kekuatan partai berlambang banteng itu bisa fokus menatap Pilwali Surabaya 2020.

Penulis: Sofyan Arif Candra Sakti
Editor: Melia Luthfi Husnika
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved