Pernah Dapat Proyek Bermasalah, Kejari Trenggalek Minta Kontraktor Tak Nakal: Jangan Pinjam Bendera

Pernah Dapat Proyek Bermasalah, Kejari Trenggalek Minta Kontraktor Tak Nakal: Jangan Pinjam Bendera.

Pernah Dapat Proyek Bermasalah, Kejari Trenggalek Minta Kontraktor Tak Nakal: Jangan Pinjam Bendera
SURYA/AFLAHUL ABIDIN
Kepala Kejari Trenggalek Lulus Mustofa 

TRIBUNJATIM.COM, TRENGGALEK - Kepala Kejari Trenggalek Lulus Mustofa mengingatkan para kontraktor tak nakal dalam membangun proyek yang akan mereka kerjakan.

Peringatan itu disampaikan dalam Penandatanganan lima kontrak pembangunan gedung negara dan peningkatan jalan di Kabupaten Trenggalek, Selasa (9/7/2019).

"Jangan pinjam bendera dalam proyek. Kalau dari awal niatnya ingin mengerjakan sebuah pekerjaan, ya ikut lelang. Bikin perusahaan sendiri. Jangan pinjam perusahaan orang lain," kata Lulus.

Ada 432 ASN Trenggalek Bakal Pensiun, Sebagian Besar Pejabat Fungsional, Ini Pesan Bupati Mas Ipin

Duta Seni Kabupaten Trenggalek Tampil di TMII, Kesenian Harus jadi Jendela Menyapa Masyarakat

Bupati Trenggalek Mas Ipin Kini Jabat Pimpinan DPC PDIP Trenggalek

Pengerjaan oleh perusahaan lain, lanjut dia, bisa dilakukan bila pekerjaan membutuhkan penanganan dengan spesifikasi khusus.

Selain itu, kasus pinjam bendera dalam proyek bisa ditindak secara hukum.

Selain itu, kontraktor juga harus memperhatikan tenggat waktu pengerjaan proyek sesuai ketentuan.

Empat proyek pembangunan gedung diberi batas maksimal pekerjaan tuntas hingga 25 Desember 2019. Sementara satu pekerjaan peningkatan jalan diberi waktu tenggat hingga 25 November.

Agar pengerjaan tak terancam molor, kata Lulus, kontraktor harus memperhatikan kondisi geografis di Trenggalek yang memiliki banyak daerah gunung. Peringatan ini karena sebagian besar kontraktor berasal dari luar kota.

Selain itu, perlu juga diperhatikan soal cuaca serta mobilisasi bahan dan peralatan.

"Harus dijaga mutunya. Jangan sampai baru 2 atau 3 tahun pekerjaannya begitu-begitu saja," tutur dia.

Lulus bilang, Kejari pada tahun lalu menemukan empat kasus proyek bermasalah. Para kontraktor akhirnya harus memperbaiki pembangunan gedung dan jalan karena masih dalam waktu perawatan.

"Ada keramik-keramik yang pecah, ada juga tembok yang sudah retak, dan retaknya bukan cuma setebal rambut, tapi seukuran sapu lidi," ujar dia.

Perusahaan kontraktor akhirnya harus menanggung pembenahan yang nilainya cukup tinggi.

Lulus bercerita, ada salah satu proyek pembangunan jalan yang sampai menghabiskan hampir Rp 500 juta untuk perbaikan ulang.
"Kalau kami menemukan ada yang hingga lewat masa perawatan, kami akan tindak," pungkasnya.

Penulis: Aflahul Abidin
Editor: Sudarma Adi
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved