Lewat Bioskop Mini, Banyak Pesan Moral Bagi Warga Blitar Soal Cerita Panji jadi Media Pendidikan

Tema itu mengemuka dalam Seminar Budaya Panji di Bioskop Mini Kompleks Amphiteater Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Rabu (10/7/2019).

Lewat Bioskop Mini, Banyak Pesan Moral Bagi Warga Blitar Soal Cerita Panji jadi Media Pendidikan
Surya/samsul hadi
Pegiat Budaya Panji, Henri Nurcahyo saat memaparkan pesan-pesan di cerita Panji dalam Seminar Budaya Panji di Bioskop Mini Komplek Amphiteater, Kabupaten Blitar, Rabu (10/7/2019). 

 TRIBUNJATIM.COM, BLITAR - Cerita Panji yang selama ini berkembang di masyarakat hanya soal kisah percintaan dan romantisme. Padahal, secara substansi, cerita Panji memiliki banyak pesan moral yang bagus untuk media pendidikan bagi generasi muda.

Tema itu mengemuka dalam Seminar Budaya Panji di Bioskop Mini Kompleks Amphiteater Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Rabu (10/7/2019).

Acara itu merupakan rangkaian dari Festival Panji Nusantara 2019 yang diadakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerjasama dengan Disparbud Provinsi Jatim dan Disparbudpora Kabupaten Blitar.

Dua pemateri dalam seminar itu, yakni, Henri Nurcahyo, pegiat Budaya Panji asal Surabaya dan Dewa Gde Satrya, dosen Universitas Ciputra Surabaya berusaha mengupas cerita Panji dari berbagai aspek. Keduanya mencoba mengaitkan kisah yang ada sejak era Majapahit di abad 14 itu dengan kondisi masa kini.

Seperti yang dipaparkan, Henri Nurcahyo. Pria yang mulai serius menekuni budaya Panji sejak 2008 itu mengatakan cerita Panji bukan hanya soal kisah percintaan saja. Banyak pesan moral dari cerita Panji yang bisa dipakai untuk media pembelajaran bagi generasi muda.

Selama ini, masyarkat hanya menangkap cerita Panji di permukaan saja. Cerita Panji yang berkembang di masyarakat selama ini hanya soal kisah percintaan antara putra mahkota Kerajaan Jenggala Raden Inu Kertapati (Raden Panji Asmarabangun) dan putri Kerajaan Kediri Dewi Sekartaji.

Padahal, menurut penulis beberapa buku tentang Panji, itu secara substansi banyak pesan moral yang bisa dipetik dalam cerita Panji. Semangat cerita Panji adalah soal persatuan. Pesan besar dalam cerita Panji ini berusaha menyatukan dua kerajaan yang sedang bermusuhan.

Lewat perkawinan politik antara Raden Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji, dua kerajaan, yaitu Jenggala dan Kediri yang telah berseteru secara turun temurun dapat kembali bersatu.

"Semangat cerita Panji sebenarnya soal persatuan. Menyatukan dua kerajaan yang sedang bermusuhan. Cerita itu masih relevan dengan kondisi bangsa saat ini. Misalnya, soal cebong dan kampret seharusnya bisa bersatu lagi," kata Henri kepada Tribunjatim.com.

4 Sapi Lumajang Digondol Maling Dalam Sehari, Polres Lumajang Tegur Kepala Desa yang Tak Sedia HT

Isi Pertanyaan Polisi Saat Periksa Pablo Benua & Rey Utami, Galih Ginanjar Terancam Jadi Tersangka

Jadi Saksi Kasus Kosmetik Ilegal Kediri, Via Vallen dan Nella Kharisma Tak Hadir ke Sidang

Dikatakannya, semangat persatuan dalam cerita Panji itu bisa dijadikan media pembelajaran di sekolah. Guru bisa membuat cerita dengan mengadaptasi kisah Panji. Misalnya, guru membuat cerita ada dua keluarga yang sedang bermusuhan. Ternyata anak dari dua keluarga itu satu tim dalam pertandingan bulutangkis ganda.

Halaman
12
Penulis: Samsul Hadi
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved