Napak Tilas Salah Satu Candi Peninggalan Kerajaan Majapahit di Mojokerto, Candi Cungkup

Kabupaten Mojokerto telah memiliki beragam candi peninggalan kerajaan Hindu dan Budha.

Napak Tilas Salah Satu Candi Peninggalan Kerajaan Majapahit di Mojokerto, Candi Cungkup
Febrianto/Tribunjatim
Penampakan Candi Cungkup di Desa Kesiman, Kabupaten Mojokerto, Struktur Candi ini terdiri dari Kaki dan Badan Candi.Rabu (9/7/2019) 

TRIBUNJATIM.COM, MOJOKERTO - Kabupaten Mojokerto telah memiliki beragam candi peninggalan kerajaan Hindu dan Budha.

Keindahan pada struktur batunya yang bertumpuk, beserta relief yang menyimpan sejuta cerita bersejarah tentu menambah kekaguman bagi wisatawan ketika melihat bangunan tersebut.

Candi Cungkup misalnya, berada di desa Kesiman Tengah, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, candi ini memiliki tinggi 5 meter dan keempat sisinya memiliki lebar 8 meter.

Ketika Wartawan Surya mencoba melihat Candi Cungkup bersama komunitas cagar budaya Mojopahit Study Club, Rabu sore (10/7/2019), Dari Kabupaten Mojokerto, perjalanan ditempuh hampir satu jam menggunakan sepeda motor. Jarak antara Kabupaten Mojokerto dengan lokasi candi kira kira 20 KM.

Jalur yang bisa dilewati oleh sepeda motor dan penuh dengan kerikil, berkelok kelok, menanjak dan menurun, serta di samping jalan terdapat pemandangan sawah lengkap dengan sistem pengairannya, menghiasi perjalanan kami menuju Candi Cungkup.

Sesampainya di depan Candi Cungkup, kami disambut oleh Sujiono,(40) penjaga Candi Cungkup yang juga merupakan warga Desa Kesiman Tengah, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto.

Sujiono mengatakan, Candi Cungkup sudah ditemukan sejak zaman penjajahan belanda. Kendati sudah ditemukan, kurangnya informasi tentang berdirinya candi tersebut membuat candi ini jarang diketahui oleh masyarakat.

Setelah pintu gerbang dibuka oleh Sujiono, para anggota komunitas mengamati struktur bangunan dan Relief pada Candi Cungkup.

Kang Ega, salah satu anggota komunitas Mojopahit Study Club, mengatakan Candi Cungkup memiliki enam relief dengan berbagai cerita.

"Keenam relief bercerita tentang pengadukan samudra mantana, cerita kelinci, cerita kinari, cerita hanoman, dan cerita nandaka," kata Kang Ega kepada Tribunjatim.com, Rabu (10/7/2019).

Halaman
12
Penulis: Febrianto Ramadani
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved