24 Siaran TV dan Radio di Malang, Madiun, Kediri Mendadak Hilang, Balai Monitor Bongkar Penyebabnya

Ribuan warga Malang, Kediri, dan Madiun dibingungkan dengan hilangnya tayangan beberapa channel stasiun televisi (tv) nasional maupun lokal.

24 Siaran TV dan Radio di Malang, Madiun, Kediri Mendadak Hilang, Balai Monitor Bongkar Penyebabnya
ISTIMEWA/TRIBUN JATIM
Kepala Balai Monitor Kelas I Surabaya Jatim Sensilaus Dore - Balai Monitor menjelaskan alasan hilangnya beberapa channel televisi dan radio di Malang, Kediri dan Madiun, Juli 2019. 

Laporan Wartawan TribunJatim.com,  Luhur Pambudi

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Ribuan warga Malang, Kediri, dan Madiun dibingungkan dengan hilangnya tayangan beberapa channel stasiun televisi (tv) nasional maupun lokal di layar monitor telivisi mereka

Hal itu bukan disebabkan adanya kerusakan pada perangkat keras tv yang mereka miliki.

Namun beberapa stasiun televisi tersebut, ternyata memang tidak diizinkan untuk mengudara memanfaatkan gelombang frekuensi di kawasan tersebut.

Manfaatkan Tumbuhan Organik, Mahasiswa Stikom Surabaya Sukses Ciptakan Bisnis Makeup Olive Organic

Menurut Kepala Balai Monitor Kelas I Surabaya Jatim Sensilaus Dore, hilangnya beberapa stasiun tv dan radio fm itu akibat aktivitas penertiban frekuensi sinyal radio yang dilakukan pihaknya.

Sensi menganggap penertiban itu terbilang aktivitas rutin yang dijalankan instansinya.

Tujuannya, melakukan pengawasan perizinan terhadap stasiun tv maupun radio fm yang mengudara memanfaatkan frekuensi di wilayah-wilayah tersebut.

“penertiban ini adalah akumulasi dari kegiatan lain, yang masih melekat pada tugas kami. Ya seperti observasi monitoring, inspeksi, pengukuran parameter teknis, penanganan gangguan, pendistribusian Surat Pemberitahuan Pembayaran (SPP),” katanya saat ditemui TribunJatim.com di ruangannya, Jumat (12/7/2019).

Intip Produk Bisnis Alta Eco Print ala Stikom Surabaya, Begini Proses Pembuatan dan Keunggulannya!

Penertiban frekuensi yang berujung hilangnya sejumlah siaran stasiun tv ini, ternyata telah dimulai sejak oktober 2018.

“Kami berusaha melakukan kegiatan ini lebih humanis, kami sudah beri peringatan, bahkan kami pernah melakukan rapat bersama, agar mereka bisa berinisasi sendiri, sesuai dengan aturan yang ada,” lanjutnya.

Halaman
123
Penulis: Luhur Pambudi
Editor: Melia Luthfi Husnika
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved