Indonesia Ekspor Produk Hortikultura 435 Ribu Ton di 2018, Guru Besar IPB Usul Konsep OVOV

Besarnya potensi komoditas hortikultura Indonesia, memacu Kementerian Pertanian (Kementan) untuk terus melakukan berbagai terobosan dan inovasi.

Indonesia Ekspor Produk Hortikultura 435 Ribu Ton di 2018, Guru Besar IPB Usul Konsep OVOV
Istimewa
Acara Pemaparan Penyusunan Rencana Strategis Direktorat Jenderal Hortikultura di Yogyakarta, Jumat kemarin (12/7/2019) kemarin. 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Besarnya potensi komoditas hortikultura Indonesia, memacu Kementerian Pertanian (Kementan) untuk terus melakukan berbagai terobosan dan inovasi.

Produksi hortikultura Indonesia tercatat terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut catatan BPS, sepanjang tahun 2018, produksi buah-buahan mencapai 21,5 juta ton, sayuran 13 juta ton, tanaman hias 870 juta tangkai dan tanaman obat mencapai 676 ribu ton.

Kinerja volume ekspor hortikultura tahun 2018 mencapai 435 ribu ton, naik 10,36% dibanding tahun 2017 sebanyak 394 ribu ton.

(Petani Nganjuk Kembangkan Bawang Merah Organik Tenaga Lele, Hortikultura Angkat Topi)

Guru Besar Ekonomi Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. M. Firdaus mengatakan pemerintah harus tetap fokus menggarap komoditas hortikultura tertentu yang strategis untuk menggebrak dan menguasai ekspor.

Ini sesuai kebijakan Mentan Amran untuk menggerakkan ekspor dan investasi pertanian.

"Peningkatan daya saing hortikultura Indonesia menjadi agenda penting. Permintaan dunia ke depan masih terus meningkat untuk produk pertanian primer dan hasil olahannya," ucap Prof. Firdaus saat dikonfirmasi, Sabtu (13/7/2019)

Prof Firdaus juga menekankan untuk lebih menguasai pasar global, pengembangan buah dan sayur harus lebih fokus pada peningkatan kualitas dan persaingan harga.

Tanaman hias dan obat harus difokuskan pada kuantitas dan kontinuitas produksi.

Namun demikian, persaingan dagang di tingkat global dan regional kini semakin ketat.

Tak hanya penurunan tarif, Menurut Firdaus pemenuhan tuntutan non tarif serta blok dagang regional bisa mempengaruhi daya saing ekspor produk pertanian khusunya hortikultura.

(Petani Nganjuk Kembangkan Bawang Merah Organik Tenaga Lele, Hortikultura Angkat Topi)

"Jadi penting kita mengetahui karakteristik konsumen dan potensi TBT (Technical Barrier to Trade, red) negara tujuan,” terangnya.

Oleh karena itu, Firdaus menyebutkan konsep kawasan buah Satu Desa Satu Varietas (One Village One Variety/OVOV) bagus dikembangkan supaya pengendalian mutu, harga dan kuantitas bisa lebih mudah dilakukan.

Pemerintah siapkan benih yang berkualitas, kalau perlu dibagikan secara gratis kepada masyarakat namun tetap dalam skala ekonomi tertentu.

"Sistem logistik hortikultura seperti yang sudah ada untuk beras dan jagung selayaknya juga dibangun," pungkasnya.

(Petani Nganjuk Kenalkan BAMELE, Hasilkan 17 Ton Bawang Merah Tanpa Pestisida Bonus 10 Ton Lele)

Penulis: Fikri Firmansyah
Editor: Anugrah Fitra Nurani
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved