Ajari Olah Limbah Buah Naga, Departemen Jiwa & Komunitas FKP Unair Berdayakan Ibu-ibu di Banyuwangi

Ajari Olah Limbah Buah Naga, Departemen Jiwa & Komunitas FKP Unair Berdayakan Ibu-ibu di Banyuwangi

Ajari Olah Limbah Buah Naga, Departemen Jiwa & Komunitas FKP Unair Berdayakan Ibu-ibu di Banyuwangi
TRIBUNJATIM.COM/ JANUAR ADI SAGITA
Ajari Olah Limbah Buah Naga, Departemen Jiwa & Komunitas FKP Unair Berdayakan Ibu-ibu di Banyuwangi 

TRIBUNJATIM.COM, BANYUWANGI - Departemen Jiwa dan Komunitas Fakultas Keperawatan (FKP) Universitas Airlangga memberikan pelatihan kepada para ibu rumah tangga, di Desa Glagah Agung, Purwoharjo, Banyuwangi, mulai 11-12 Juli 2019.

Mereka melatih ibu-ibu untuk mengolah buah 'limbah' naga menjadi sesuatu yang menghasilkan secara ekonomi.

Tim yang beranggotakan tiga orang (Sylvia Dwi Wahyuni, Setho Hadisuyatmana, dan Rista Fauziningtyas), ini bekerjasama dengan Desa Glagah Agung mencoba meningkatkan nilai jual buah naga yang tidak laku dijual (grade B dan C), dan biasanya menjadi pakan ternak ataupun dibuang begitu saja ke sungai menjadi olahan dodol, syrup, dan selai yang bebas bahan pengawet.

“Buah grade B dan C biasanya tidak laku dijual, kalaupun iya, mungkin hanya seharga Rp. 50 saja per kilo”, ujar ketua tim, Sylvia Dwi Wahyuningsih, Jumat (12/7/2019).

Kehidupan Soeharto Saat Tak Jadi Presiden, Cara Ajudan Mengawal Terasa Aneh, Sang Ajudan Pun Malu

Menurut Sylvia, soal rasa dan isi buah kualitasnya masih sama.

“Padahal kalau soal rasa dan isi buah, kualitasnya sama. Hanya saja, buah grade B dan C itu secara tampilan luar tidak menarik, warnanya tidak merah merata, belang-belang dengan warna hijau ataupun ada luka di kulitnya," lanjut Sylvia.

Anggota tim lainnya, Rista Fauziningtyas mengatakan, kegiatan itu sebenarnya tidak cukup dilakukan hanya satu kali.

“Pembinaan ini nantinya tidak cukup satu kali kedatangan. Ke depan, kita akan datang lagi untuk mencoba menghubungkan kelompok produksi yang kita bina sekarang dengan toko souvenir dan oleh-oleh di sekitar Banyuwangi,” Rista Fauziningtyas.

“Tidak jarang juga dari Ibu-ibu yang datang menanyakan kembali resep pembuatan dodol dan syrupnya. Kayaknya mereka akan buka sendiri-sendiri,"lanjut Rista.

Hal senada juga disampaikan rekan mereka, Setho Hadisuyatmana.

“Kita sih berharap saja, Ibu-ibu yang ikut tidak hanya antusias pas acara ini saja. Kalau memang bener terus berproduksi, kita yakin bisa masuk dan diterima masyarakat sebagai pembeli. Karena secara rasa, sudah sangat layak kalau jadi oleh-oleh khas, yang baru dari Banyuwangi”, Setho menutup wawancara ini.

Sementara itu, Lurah Desa Glagah Agung yang membuka acara tersebut, Ponirin, berharap kegiatan ini dapat meningkatkan perekonomian ibu rumah tangga di wilayahnya.

Editor: Januar AS
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved