Aktivis dan Penulis Ini Sampaikan Cara Menyikapi Intoleransi di Indonesia: Membudayakan Kelucuan,

Hari ini, Senin (15/7/2019) Prof Sumanto Al Qurtuby, mengisi talkshow bertajuk Radikalisme dalam Kehidupan Bangsa dan Negara Indonesia.

Aktivis dan Penulis Ini Sampaikan Cara Menyikapi Intoleransi di Indonesia: Membudayakan Kelucuan,
TRIBUNJATIM.COM/HEFTY SUUD
Yuke (kiri) menceritakan pengalaman buah hatinya yang pernah dikatai Kafir dalam Talkshow Radikalisme dalam Kehidupan Bangsa dan Negara Indonesia, Senin (15/7/2019). 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Hefty's Suud

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Hari ini, Senin (15/7/2019) Prof Sumanto Al Qurtuby, mengisi talkshow bertajuk Radikalisme dalam Kehidupan Bangsa dan Negara Indonesia.

Membuka acara, Dosen dan Kepala Penelitian Ilmu-ilmu Sosial dan Humaniora, King Fahd University of Petroleum and Minerals Arab Saudi itu meminta salah satu peserta memberi contoh mengenai kasus radikalisme dan intoleransi.

"Jangankan dewasa, anak-anak pada rentang usia sekolah dasar bahkan di bawahnya, ada beberapa yang sudah diajari sikap-sikap intoleransi, radikalisme dan sebagiannya" ujar Sumanto.

Ramalan Cinta Zodiak Selasa 16 Juli 2019: Libra Ragu, Perasaan Virgo Tak Terbalas, Cancer Bertengkar

Calon Pengantin Mau Nikah Harus Tes Urine Per Agustus, Jika Positif Maka Harus Direhabilitasi Dulu

Yuke, salah satu peserta, mencontohkan dengan pengalaman yang dialami anaknya.

Diceritakan Yuke, menjadi seorang muslim, menikah beda agama dengan warga negara asing, dan memelihara anjing di rumahnya, membuat sang buah hati mendapat cap sebagai kafir.

"Anak saya sampai punya ketakutan sama perempuan berhijab, kecuali pada nenek dan tantenya. Pas saya tenya kenapa, katanya karena gurunya di sekolah itu berhijab, nah gurunya itu yang membully dia sebagai kafir," papar Yuke.

Lanjutnya, buah hatinya memerlukan waktu satu tahun untuk dapat sembuh dari ketakutan tersebut dan mengembalikan kepercayaan dirinya.

Menurut Sumanto, bully kafir di lingkungan sekolah itu merupakan salah satu contoh kecil dalam kasus intoleransi dan radikalisme di Indonesia.

Hal tersebut pun ditanggapi Eko Kuntadhi, aktivis dan penulis anti intoleransi. Menurut Eko, salah satu cara menghadapi intoleransi dan radikalisme adalah dengan membudidayakan kelucuan.

"Orang-orang radikal itu jarang ada yang lucu, sedikit-sedikit dibilang kafir, berhianat, dan lain sebagiannya. Nah untuk memerangi itu, kita perlu banyak tertawa, menertawakan diri sendiri," tutur Eko.

Penulis: Hefty Suud
Editor: Melia Luthfi Husnika
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved