Kasus Suami Jual Istri Demi Threesome, Sosiolog Unair Sebut Ada Desakralisasi & Komersial Hubungan

Kasus Suami Jual Istri Demi Threesome, Sosiolog Unair Sebut Ada Desakralisasi & Komersial Hubungan.

Kasus Suami Jual Istri Demi Threesome, Sosiolog Unair Sebut Ada Desakralisasi & Komersial Hubungan
SURYA.CO.ID
Pakar Sosiolog, Prof Bagong Suyanto

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Beberapa kasus suami jual istri sah, terjadi di beberapa kota di Jawa Timur.

Tak tanggung-tanggung, dalam seminggu tiga kasus suami jual istri untuk layanan seksual di tiga kota yaitu Tuban, Pasuruan dan Surabaya dibongkar polisi.

Tiga kasus tersebut sama-sama dilakukan untuk layanan seksual, dua diantaranya berdalih untuk fantasi threesome.

Polisi Tangkap Wanita di Tandes Surabaya Akibat Lanjutkan Bisnis Suami yang Sudah Dipenjara

Sosok Mantan Istri Irwan Mussry yang Tak Tereskpos, Tak Kalah dari Maia, Lihat Sosok Suami Barunya

Suami Jual Istri Rp 2 Juta di Medsos Buat Layani Pria, Mengaku Buka Bisnis Esek-esek Sejak Mei

Lalu mengapa threesome menjadi fantasi pria khususnya yang tengah berkeluarga?

Pakar sosiolog Unair Prof Dr Bagong Suyanto mengatakan, maraknya kasus threesome lantaran adanya pergeseran konsep dan makna sebagian orang terhadap keluarga.

"Ada desakralisasi, kalau dulu orang berkeluarga menempuh satu ritus dan kehidupan baru yang disakralkan, bahkan virginitas," kata Bagong Suyanto, Selasa (16/7/2019)

Menurutnya, memudarnya pandangan sakralisasi perkawinan dikuatkan dengan maraknya threesome melibatkan suami-istri.

"Yang namanya hubungan suami-istri tidak lagi sakral bahkan dianggap biasa, perubahan gaya hidup yang semakin permisif. Yang mungkin keblabasan adalah sepasang suami istri tertentu yang mengkomersialkan hubungan," kata Bagong.

Komersialisasi hubungan suami-istri yang dimaksudnya, adalah, adanya instrumen yang justru digunakan untuk menambah pemasukan keluarga.

"Tidak sekedar desakralisasi tapi hubungan suami-istri dianggap sebagai modal menggaet pemasukan. Ini juga bukan hal yang baru," kata dia.

Beragam pemicu, disebutkan Bagong berbeda-beda namun yang kerap dianggap oleh pelaku realistis yaitu permasalahan ekonomi.

"Saya kira Jawa Timur bukan menjadi tren, dugaan saya di lain kota juga ada. Kalau penutupan lokasilisasi juga tidak berpengaruh, aktifitas seksual komersial juga masih berjalan tidak hanya layanan istri orang tetapi mungkin masuk apartemen banyak, masuk spa masih banyak. Penutupan lokalisasi itu hanya penyelesaian politis yang tidak dapat menyelesaikan persoalan prostitusi," kata dia.

Penulis: Nur Ika Anisa
Editor: Sudarma Adi
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved