Musim Kemarau, Petani di Mojokerto Pusing Karena Puluhan Hektar Sawah Alami Kekeringan & Gagal Panen

Musim Kemarau, Petani di Mojokerto Pusing Karena Puluhan Hektar Sawah Alami Kekeringan & Gagal Panen.

Musim Kemarau, Petani di Mojokerto Pusing Karena Puluhan Hektar Sawah Alami Kekeringan & Gagal Panen
TRIBUNJATIM.COM/FEBRIANTO RAMADANI
Seorang petani sedang mengairi sawahnya dengan pompa air mesin diesel agar tanaman padi miliknya tidak kering dan mati, Jumat (19/7/2019). 

TRIBUNJATIM.COM, MOJOKERTO - Sejumlah petani padi di kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto, mengalami gagal panen akibat dilanda musim kemarau berkepanjangan.

Dampaknya, puluhan hektar sawah yang ditanami padi terlihat kering dan mati karena kurangnya aliran air. Ditambah dengan kondisi tanah pada lahan persawahan tersebut mengalami retak dan pecah.

Ada di Eks Lokalisasi, SDN di Mojokerto Hanya Terima 9 Murid Baru, Setiap Pagi Gelar Salat Hajat

Satpol PP Bongkar Ratusan Bangunan Liar di Tepian Jalan Kota Mojokerto, Pedagang Buah Hanya Pasrah

Kisah SDN di Wilayah eks Lokalisasi Kota Mojokerto, Dihindari Wali Murid dan Hanya Terima 9 Siswa

Menurut Ahmad (65), petani padi asal desa Watesprojo, lebih dari sebulan saluran irigasi di sekitar sawah tidak dilewati air. Alhasil, sawah miliknya tidak mendapatkan pasokan air, sehingga tanah di sawahnya mulai retak-retak.

"Sedikitnya, ada sekitar 10 hektar lahan sawah di desa Watesprojo yang ditanami padi berusia satu hingga dua bulan, mulai mati akibat tidak teraliri air dalam sebulan terakhir," kata Ahmad, Jum'at (19/07/2019).

Agar tanaman padi dan sawah tidak mati dan kering, lanjut Ahmad, sebagian warga kecamatan Kemlagi mengairi sawahnya dengan pompa air mesin diesel dari sumbernya.

"Kalau menggunakan pompa air mesin diesel, tidak semua sawah terkena aliran dari pompa air, karena tidak semua sawah sudah dipasang bor pipa untuk aliran air dari dalam tanah," lanjut Ahmad.

Masih kata Ahmad, petani harus membayar biaya tambahan sebesar 50 ribu Rupiah, agar sawah bisa mendapatkan aliran air dari pompa mesin diesel.

"Setiap hari kami mengeluarkan uang tambahan 50 ribu Rupiah untuk membeli bahan bakarnya," terangnya.

Ahmad hanya bisa berharap bantuan dari pemerintah untuk meningkat jumlah saluran air dalam pengairan sawah di wilayah tersebut.

Penulis: Febrianto Ramadani
Editor: Sudarma Adi
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved