Founder Handmadeshoesby Sebut Edukasi Jadi Kunci Sukses Usaha Grosir Tas Buatan Tangan Miliknya

Handmadeshoessby berharap kedepanya dapat menjadi Toko Oleh-oleh Surabaya, seperti Toko Oleh-oleh Krisna di Bali.

Founder Handmadeshoesby Sebut Edukasi Jadi Kunci Sukses Usaha Grosir Tas Buatan Tangan Miliknya
ISTIMEWA/TRIBUN JATIM
Delta Hesti Candra Pratiwi, Founder Handmadeshoessby 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Hefty's Suud

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Handmadeshoessby berharap kedepanya dapat menjadi Toko Oleh-oleh Surabaya, seperti Toko Oleh-oleh Krisna di Bali. Hal itu disampaikan foundernya, Delta Hesti Candra Pratiwi, ditemui Selasa (23/7/2019) di kediamannya.

Dijelaskan Hesti, Handmadeshoessby, kini telah memiliki produk aksesoris perempuan, berupa pouch, tas, dan sepatu yang diproduksi setiap hari, sekitar 6000 pcs sampai 7000 pcs.

Produk-produk tersebut, diungkapkan Hesti, diproduksi oleh pengrajin umkm di seluruh Indonesia, antara lain Mojokerto, Tanggulangin, Bojonegoro, Nganjuk, dan Lamongan.

"Awalnya dari home industry milik mertua di Mojokerto. Terus semakin hari, permintaan semakin besar, akhirnya saya menggandeng beberapa pengrajin umkm lainnya," ujar Hesti.

Tidak Tamat SMP, Gigih Mewujudkan Mimpi Jadi Kunci Founder Handmadeshoessby Membangun Usaha

Clearence Sale Informa Royal Plaza Surabaya, Bisa Dapat Furniture Hingga Elektronik Harga Miring

Kendati dikerjakan oleh para pengrajin rumahan, Hesti berani membandingkan kualitas produknya dengan produk impor. Sebab, para pengrajin yang bekerjasama dengannya sudah diedukasi di awal.

"Kami selalu edukasi di awal, SOP, MOU, semua dibicarakan dengan pengrajin sejak awal. Termasuk kalau jahit tas warna kuning, benangnya harus warna kuning juga. Jadi kualitas produknya terjamin," ungkap Hesti.

Memulai usaha sejak pertengahan 2010, Hesti megaku, kini ia sudah bekerja sama dengan ratusan pengrajin umkm. Setiap pengrajin, dikatakan Hesti mengerjakan model tertentu.

"Handmadeshoessby punya sekitar 1000 sampai 2000 model. Nah itu nggak semua pengrajin mengerjakan model yang sama, misal model A, nah itu hanya dikerjakan oleh pengrajin A," jelas Hesti.

Selain itu, masing-masing kelompok pengrajin, memiliki supervisi yang bertugas mengawasi kualitas produk buatan para pengrajin.

Penulis: Hefty Suud
Editor: Melia Luthfi Husnika
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved