Dua Bos Perusahaan Diadili, Gegara Ingkar Janji Garap Proyek & Rugikan Mitra Perusahaan Rp 13,8 M

Dua Bos Perusahaan Diadili, Gegara Ingkar Janji Garap Proyek & Rugikan Mitra Perusahaan Rp 13,8 M.

Dua Bos Perusahaan Diadili, Gegara Ingkar Janji Garap Proyek & Rugikan Mitra Perusahaan Rp 13,8 M
TRIBUNJATIM.COM/SAMSUL ARIFIN
Suasana Pengadilan Negeri Surabaya tampak depan 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Lantaran tak menepati janji pengerjaan proyek dua bos PT Pradiptaya, Setijo Budianto dan Valentinus Iswara disidang.

Mereka yang menjabat sebagai Dirut dan komisaris ini merugikan perusahaan mitranya senilai Rp 13,8 miliar. 

Jaksa penuntut umum (JPU) Darmawati Lahang menyatakan, kasus ini bermula dari perjanjian kerjasama antara PT Primasentosa Ganda PT Pradiptaya pada 2015 lalu. 

Pria Jepara Ini Pasrah Diadili di Pengadilan Meski Jual Burung Legal, Diungkap Penyebabnya di Sidang

Bela Kekasihnya saat Sidang Kasus Narkoba, Pengakuan Terdakwa Farid Malah Bikin Geram Majelis Hakim

PN Surabaya Akan Membuat Aturan Terkait Pengambilan Gambar untuk Awak Media Saat Persidangan

Sinarto selaku dirut dan Happy Gunawan selaku wadirut sepakat memberi tugas PT Pradiptaya untuk mengerjakan proyek pembangunan mekanikal dan elektrikal Praxis sampai batas waktu 31 Oktober 2016. PT Praditaya menyanggupi dengan nilai kontrak Rp 78,9 miliar.

PT Primasentosa selanjutnya memberikan sebesar 20 persen dari nilai kontrak senilai Rp 15,3 miliar. Selanjutnya PT Pradiptaya memberikan surat garansi bank Rp 3,9 miliar dan Rp 15,7 miliar kepada PT Primasentosa. 

"Tapi pekerjaan tidak dilaksanakan sampai batas waktu yang sudah ditentukan setelah terdakwa menerima pembayaran uang muka 20 persen," ujar jaksa Darmawati seusai sidang di Pengadilan Negeri Surabaya, (24/7/2019). 

Akibatnya, proyek terbengkalai. Kedua terdakwa justru menggunakan uang muka tersebut untuk mengerjakan proyek lain.

PT Primasentosa akhirnya merugi sampai Rp 13,8 miliar.

Pengacara terdakwa Dibyo Aries Sandy keberatan dengan dakwaan JPU. Dia kemudian mengajukan eksepsi. 

Kasus seperti sebenarnya cukup diselesaikan di Badan Arbitrase Nasional (BANI) bukan di pengadilan. Dia membantah kalau kliennya telah berbuat pidana dengan menipu perusahaan rekanannya. Uang yang dimaksud menurutnya Rp 1,3 miliar, bukan Rp 13,8 miliar.

"Dan di pembukuan sudah tercatat semua. Uangnya tidak dipakai sama terdakwa. Ada untuk usaha tapi masih belum selesai dibangun. Karena banyak rekanan yang belum bayar akhirnya tersendat," ujar Dibyo.

Penulis: Samsul Arifin
Editor: Sudarma Adi
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved