ALFI Usulkan 3 Regulasi ke Pemerintah Dorong Biaya Logistik Turun 5 Persen, Minta Koordinator Khusus

Asosiasi Logistik dan Forwarding Indonesia (ALFI) mengusulkan 3 regulasi ke pemerintah agar biaya logistik turun 5 persen.

ALFI Usulkan 3 Regulasi ke Pemerintah Dorong Biaya Logistik Turun 5 Persen, Minta Koordinator Khusus
SURYA/SRI HANDI LESTARI
Ketua Umum DPP ALFI, Yukki Nugrahawan Hanafi (kanan) saat memberikan penjelasan terkait Rakernas dan perayaan ulang tahun ALFI ke 30 di Surabaya, Selasa (30/7/2019). 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Upaya pemerintah untuk memangkas biaya logistik hingga bisa bersaing di tingkat ASEAN dengan membangun infrastruktur dalam lima tahun terakhir, masih belum memberi dampak penurunan.

DPP Asosiasi Logistik dan Forwarding Indonesia (ALFI) memberikan catatan, bila biaya logistik di Indonesia rata-rata masih 23,7 persen dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB).

Ketua Umum DPP ALFI, Yukki Nugrahawan Hanafi, pihaknya sangat mendukung upaya pemerintah dalam mengembangkan infrastruktur yang ditargetkan bisa menurunkan biaya logistik.

PT INKA Sepakat Kembangkan Sistem Transportasi dan Logistik Kereta Api dengan Pemkab Bojonegoro

"Tapi sampai saat ini belum. Harapan kami biaya logistik bisa turun 5 persen atau menjadi 17-18 persen dari PDRB," kata Yukki disela Rapat Kerja Nasional (Rakornas) ALFI/ILFA sekaligus ulang tahun ke-30 di Surabaya, Selasa (30/7/2019).

Saat ini, biaya logistik tinggi masih terjadi karena infrastruktur yang belum selesai. Juga kebijakan atau regulasi yang kurang konsisten.

Seperti program Sislognas (Sistem Logistik Nasional), yang sudah dilakukan sejak 2013 tapi ternyata tidak lagi terlaksana.

Kemudian akses ke pelabuhan dan bandara yang masih terhambat kemacetan dan aturan-aturan dan Peraturan Daerah (Perda) baik pemerintah provinsi maupun pemerintah kota dan kabupaten.

Kisah Pendaki Terjebak di Gunung Butak Malang, Logistik Menipis dan Penerangan Minim di Tengah Malam

Selain itu, kebijakan logistik yang masih terbagi di 18 kementerian dan lembaga, juga seringkali masih saling menghambat.

Kehadiran OSS (Online Single System) juga belum maksimal.

Karena pengusaha logistik masih diharuskan melakukan pembaruan data, dengan biaya yang tidak murah.

Halaman
123
Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Arie Noer Rachmawati
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved