Fransiskus dan Selviya Hanna, Pemilik Vihayana Creative Communication, Menerjemahkan Mimpi

Fransiskus Asisi Suhariyanto (45) dan Selviya Hanna P Manuputty (32), sukses mendirikan serta mengembangkan bisnis penerjemah,

Fransiskus  dan Selviya Hanna, Pemilik Vihayana Creative Communication, Menerjemahkan Mimpi
dya ayu/surya
Fransiskus Asisi Suhariyanto dan Selviya Hanna P Manuputty, Pemilik Vihayana Creative Communication 

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Fransiskus Asisi Suhariyanto (45) dan Selviya Hanna P Manuputty (32), sukses mendirikan serta mengembangkan bisnis penerjemah, Vihayana Creative Communication. Bisnis yang bertempat di Malang itu dibangun keduanya bukan dengan cara yang mudah.

Selviya Hanna yang memiliki basic dari Sastra Inggris memulai kariernya menjadi editor buku di salah satu penerbit di Surabaya. Setelah itu, ia memilih untuk menjadi penerjemah freelance yang sampai saat ini hampir 10 tahun dijalani.

Sementara Anto panggilan akrab Fransiskus Asisi Suhariyanto adalah komikus yang fokus mengembangkan bisnis penerjemahan bersama sang istri.

"Kami dirikan bisnis ini Agustus empat tahun lalu. Klien pertama saat itu National Geographic Traveler Indonesia, tetapi sekarang sudah berhenti peredarannya di Indonesia," kata Selviya Hanna saat ditemui di rumahnya sekaligus kantor Vihayana Creative Communication di daerah Lowokwaru Malang, Jumat (2/8/2019).

Pencapaian saat ini diawali dari kemauan mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Di awal pernikahan, sama seperti pasangan muda yang lain, mereka ingin memiliki rumah. Sayangnya, kondisi mereka membuat bank-bank enggan memberi pinjaman kredit rumah.

Resahkan Warga, Polres Bojonegoro Razia Balap Liar, Puluhan Remaja Ditangkap

2 Pelari Surabaya Marathon 2019 Wafat di Tengah Jalan, Pemkot Surabaya Angkat Bicara

Mobil Porshe Seharga 2,3 Miliar Warga Lakarsantri Surabaya Tabrak Pohon di Magetan, Penyebabnya ini

Sebelum tinggal di rumahnya sekarang yang berlantai dua di kawasan perumahan elite di daerah Malang, mereka pernah mengontrak di Surabaya. Dengan jerih payah dan keyakinan akhirnya mereka mampu mewujudkan impian mereka kini.

Ketika dalam sehari ada lima bank yang menolak pengajuan kredit, saat itu mereka seperti ditampar. Keduanya berpikir harus bergerak dan akhirnya Selviya resign dan fokus mendirikan usaha sendiri menjadi penerjemah sampai sekarang.

“Setelah berjalan kami merasa tidak bisa menangani sendiri, akhirnya kami mulai merekrut orang baru. Awalnya kami memiliki tiga karyawan, dua orang bagian penerjemah dan satu orang bagian desain grafis. Setelah itu akhirnya berkembang jadi sekarang, totalnya 11 orang," ungkap wanita kelahiran Jakarta, 14 April 1987 itu.

Dalam kurun waktu empat tahun, usaha mereka semakin berkembang. Kebanyakan project yang mereka dapat ternyata lebih banyak dari luar negeri daripada dari dalam negeri.

"Klien Vihayana itu 90 persen dari luar negeri. Ada dari Amerika, Australia, Singapura, Jepang, Hongkong, Romania, Inggris, Belanda, dan Jerman. Kebanyakan penerjemahan dokumen, maskapai yang berkaitan dengan traveling," jelas Selviya.

Selama menjadi penerjemah ada tiga project yang mereka nilai berkesan. Ketiganya adalah National Geographic Traveler Indonesia, salah satu produk skin care, dan project dari World Vision Indonesia daerah Papua, yakni organisasi yang bergerak di bidang kemanusiaan dengan fokus pelayanan kepada anak.

"National Geographic yang memupuk kecintaan kami pada traveling. Selain itu, project skin care sangat spesial karena director marketingnya langsung menghubungi kami, akhirnya berlanjut menerjemahkan websitenya juga. Project dari dalam negeri yang berkesan itu World Vision Indonesia di daerah Papua. Kebetulan saya dari Papua. Waktu itu mereka mau membuat buku cerita rakyat Papua. Rasanya senang karena kami akhirnya bisa terlibat dalam melestarikan budaya di Papua," bebernya.

Meski terlihat mudah dan berkembang pesat, bukan berarti bisnis penerjemah tidak ada tantangannya. Banyak tantangan yang harus dihadapi, termasuk persaingan antarpenerjemah.

Bagi Selviya apabila bisnis penerjemah ingin tetap mampu bersaing harus menjaga kualitas terjamahan, karena dari situ klien akan menilai bagaimana tingkat profesionalitas kerja.

"Yang terpenting menjaga kualitas, karena kalau dari pengalaman kami, sebenarnya kami itu tidak ngoyo mencari klien. Biasanya klien kami itu merekomendasikan kami ke temannya. Bidang jasa itu yang penting kualitas," jelas Selviya..(Myu/Tribunjatim.com)

Penulis: Dya Ayu
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved