'Nyanyian' Eks Kabid Ungkap Bukti Baru Korupsi Dispora Pasuruan, Jaksa Akan Jerat Tersangka Lain

'Nyanyian' Eks Kabid Ungkap Bukti Baru Korupsi Dispora Pasuruan, Jaksa Akan Jerat Tersangka Lain.

'Nyanyian' Eks Kabid Ungkap Bukti Baru Korupsi Dispora Pasuruan, Jaksa Akan Jerat Tersangka Lain
SURYA/GALIH LINTARTIKA
Kasi Pidsus Kejari Kabupaten Pasuruan Denny Saputra 

'Nyanyian' Eks Kabid Ungkap Bukti Baru Korupsi Dispora Pasuruan, Jaksa Akan Jerat Tersangka Lain

TRIBUNJATIM.COM, PASURUAN - Kejari Kabupaten Pasuruan menemukan sebuah alat bukti baru dalam kasus dugaan korupsi berjamaah di Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Pasuruan.

Alat bukti kasus korupsi Dispora Pasuruan itu ditemukan setelah Korps Adhyaksa memeriksa tersangka pertama dugaan mark up anggaran kegiatan tahun 2017 yang merugikan negara senilai Rp 918 juta, Luluk Wijaya (LW), mantan Kepala Bidang (Kabid) olahraga itu.

LW Tersangka Pertama Kasus Korupsi Dispora Pasuruan, 5 Kali Pamit ke Kamar Mandi saat Pemeriksaan

Berulah, Spesialis Begal Ojek di Kabupaten Pasuruan Didor Polisi, Baru Keluar Penjara Juli 2019 Lalu

Mobil Hantam Beton Pembatas Proyek Pipa di Tol Gempol-Pasuruan, Diduga Sopir Ngantuk, 3 Orang Luka

Dalam pemeriksaan tersebut, LW menyampaikan konspirasi jahat itu. Ia menyampaikan bahwa selama ini, ada keterlibatan pihak lain dalam akal - akalan mark up anggaran kegiatan tersebut.

"Kami dalami pernyataan tersangka itu. Dan terbukti, kami menemukan sebuah alat bukti baru yang diprediksi akan menjadi kunci untuk menjerat tersangka lainnya. Bukti ini bukti valid," kata Kasi Pidsus Kejari Kabupaten Pasuruan Denny Saputra, Rabu (7/8/2019).

Denny menjelaskan, dalam alat bukti itu banyak catatan yang menunjukkan aliran dana hasil dari mark up anggaran beberapa kegiatan di tahun 2017. Jadi, bisa dikatakan alat bukti ini adalah saksi bisu permainan kotor tersangka dan lainnya.

"Alat bukti ini akan kami pelajari lebih lanjut. Alat bukti ini akan menjadi petunjuk untuk lebih membuka secara gamblang kasus korupsi berjamaah di tubuh Dispora kala itu," jelasnya.

Sementara itu, Denny memastikan bahwa saat ini, jaksa sedang merampungkan pemberkasan dan administrasi berkas perkara untuk tersangka LW. Kata dia, pemeriksaan LW sudah hampir rampung.

"Ini kami marathon untuk selesaikan berkas. Kami juga masih menjadwalkan memanggil tersangka LW dalam jangka waktu dekat ini. Semoga bisa selesai minggu depan," katanya.

Denny memastikan, setelah proses pemberkasan dan sejenisnya sudah rampung atau sudah P-21, maka jaksa segera melimpahkan berkas ini ke Pengadilan Tipikor untuk disidangkan.

"Nah saat proses pelimpahan berkas ke Tipikor itu, kami akan menahan tersangka LW. Sejauh ini, kami masih mewajibkan yang bersangkutan untuk wajib lapor dan kami terus memantau aktivitas tersangka," jelasnya.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, dalam hasil audit resmi dari Inspektorat, total kerugian negara dalam kasus korupsi massal ini sekitar Rp 918 juta. Jumlah ini lebih kecil dibandingkan hitung - hitungan sebelumnya yang mencapai angka Rp 1,1 miliar.

LW ditetapkan sebagai tersangka karena diduga terlibat dalam akal - akalan jahat di dalam kasus ini. LW berperan aktif dalam menggunakan kuasa dan jabatannya untuk memploting anggaran kegiatan.

Tersangka LW mengetahui konspirasi mark up beberapa kegiatan. Contohnya, untuk kegiatan Porsadin di tahun 2017. Dalam kegiatan itu, ada beberapa anggaran yang diplot untuk sebuah kegiatan yang nilainya dilebihkan.

Dalam arti lain, plot anggaran yang dilaporkan dalam laporan keuangan itu berlebihan. Ada indikasi, dengan sengaja menaikkan harga untuk suatu kegiatan. indikasi penyalahgunaan wewenang untuk memperkaya diri sendiri itu sangat terasa.

Penulis: Galih Lintartika
Editor: Sudarma Adi
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved