Dalam 7 Bulan Ini Ratusan Perempuan di Sampang Berstatus Janda, Gegara Tingginya Kasus Perceraian

Dalam 7 Bulan Ini Ratusan Perempuan di Sampang Berstatus Janda, Gegara Tingginya Kasus Perceraian.

Dalam 7 Bulan Ini Ratusan Perempuan di Sampang Berstatus Janda, Gegara Tingginya Kasus Perceraian
TRIBUNMADURA.COM/HANGGARA PRATAMA
Fa'iq, Panitera Pengadilan Agama (PA) Sampang (memakai kopiah hitam), saat di temui ke ruangannya Kantor Pengadilan Agama Sampang, Jalan Jaksa Agung Suprapto, Kamis (8/8/2019). 

Dalam 7 Bulan Ini Ratusan Perempuan di Sampang Berstatus Janda, Gegara Tingginya Kasus Perceraian

TRIBUNJATIM.COM, SAMPANG - Kasus penceraian yang terjadi di Kabupaten Sampang tergolong tinggi, terbukti selama tujuh bulan terdapat ratusan warga yang menyandang status janda.

Tercatat di Pengadilan Agama Sampang, dari bulan Januari hingga bulan Juli 2019 mencapai 828 perkara.

Dengan rincian, cerai talak berjumlah 289 dan cerai gugat 539 perkara.

Banyak Peserta Lomba Gerak Jalan di Sampang yang Pingsan, Dina Andriana: Bukan Karena Rute

Terdampak Musim Kemarau, Belasan Wilayah di Sampang Mengalami Kekeringan hingga Kemacetan Air PDAM

Warga Sampang Sambat Air PDAM Macet Tapi Tetap Bayar, Sebut Masalah yang Tak Pernah Ada Solusi

"Perkara yang masuk tersebut tidak semuanya di putus, melainkan masih ada sebagian yang masih dalam proses persidangan," kata Faiq Panitera Pengadilan Agama Sampang, Kamis (8/8/2019).

Ia mengatakan selama tujuh bulan itu perkara yang diputus sebanyak 659 perkara.

"Rinciannya, cerai talak sebanyak 242 dan cerai gugat 417 perkara," ujarnya.

Penyebab dari sejumlah perkara tersebut pihaknya menerima dari beragam permasalahan, mulai dari perselisihan, pertengkaran terus menerus, kawin paksa, poligami, perekonomian, dihukum sampai di penjara, serta meninggalkan pasangannya begitu saja.

Namun, penyebab perceraian yang paling dominan disebabkan oleh adanya perselisihan dan pertengkaran terus menerus di dalam keluarga.

"Jumlahnya hingga mencapai 419," paparnya.

Fa'iq menambahkan bahwa pihaknya selalu melakukan proses mediasi terlebih dahulu sebelum memutus suatu perkara kepada warga yang hendak mengurus penceraian.

"Agar masyarakat tidak terlalu gampang mengambil keputusan untuk bercerai, lebih baik terlebih dahulu berkomunikasi kepada keluarga untuk mencari solusi yang baik," pungkasnya

Penulis: Hanggara Pratama
Editor: Sudarma Adi
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved